Langsung ke konten utama

Perjalanan Batin

Akhir penantian antologi “HIJAU” selesai kemarin petang pukul 16.34 setelah Pak Pos meletakkan paket buku di atas meja teras dan mengirim WhatsApp. Even ini dihelat komunitas facebook Jejak Perjalanan Jiwa (JPJ) sejak Februari 2025. Ini adalah buku ke-3 yang diterbitkan oleh komunitas JPJ dikhususkan untuk memperingati Hari Pohon Sedunia. Temanya tentang pohon dan lingkungan hidup. Karena itu, judul buku "HIJAU."

Hingga ditutup pada akhir November, terhimpun 53 penulis yang berkontribusi dalam penerbitan buku “HIJAU” ini. Isi buku meliputi esai sebanyak 6 dari 6 penulis, cerpen sebanyak 17 dari 17 penulis, serta puisi sebanyak 103 dari 49 penulis. Dengan tebal xxviii + 284 halaman, buku ini diberi kata pengantar oleh Gus Nas Jogja (H.M. Nasruddin Anshoriy Ch., sastrawan, budayawan, dan pengasuh Desa Kebangsaan Yogyakarta).

Antologi "HIJAU" esai, cerpen, dan puisi 

Sebuah kata pengantar (prolog) panjang dengan judul “Merayakan Hijau dengan Pesta Estetika” dan kata penutup (epilog) berjudul “Tasawuf Sastra: Obskuritas dalam Kemasan Absurditas?” oleh Wardjito Soeharso, penulis dan pencinta sastra dari Semarang. Baik prolog maupun epilog membuka jalan mengantarkan batin menjelajah pengembaraan imajiner. Karena antologi “HIJAU” menawarkan cahaya di tengah narasi kegelapan.  

Sejak saya buka bungkus paket dan mulai baca (puisi dahulu), perlahan jejak perjalanan spiritual mengalir bak air sungai menjernihkan logika di tengah penebangan pohon oleh korporasi sehingga hutan gundul menimbulkan bencana. Satu per satu puisi saya baca, mencerna isinya, dan menghayati maknanya. Ada yang mengekalkan makna pohon bagi kehidupan manusia dan sebagai paru-paru dunia. Di situ pentingnya menanam pohon.

Setelah pembacaan puisi selesai, baru saya alihkan perhatian pada esai dan cerpen. Mengapa puisi jadi prioritas pembacaan saya? Karena saya masuk dalam bagian 49 penulis dengan menyumbangkan 3 judul puisi tentang pohon dan pulau di Papua yang dicakar menjadi tambang nikel. Padahal, isi hutan di sana tak ubahnya “lumbung pangan” bagi penduduk. Tema lain yang saya tulis adalah pohon yang bisa juga sebagai ajang amal/sedekah.

Perjalanan imaji dan pengendapan batin saya atas hadis Nabi Muhammad Shallallahu‘alaihi wasallam berbunyi, “Tidaklah seorang muslim, menanam pohon atau tetumbuhan, kemudian burung, manusia dan hewan ternak memakan buah-buahan dari pohon yang dia tanam, kecuali hal tersebut terhitung sedekah baginya.” Narasi ini saya kaitkan dengan wasiat Ayah yang menanam dua pohon mangga, agar anak-anaknya paham maknanya di “suatu waktu” kelak. Itu filosofi dan hikmahnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...