Langsung ke konten utama

Merasa Seperti Kehausan

Untuk mengsinkronkan jarak waktu antara kepulangan Pak ketua RT.05 BKP Blok N/O dengan namanya disebut tadi malam di masjid, saya menghitung secara cermat dengan membuka catatan blog yang mengisahkan dirinya.

Ketemu garis waktu sepanjang 36 hari. Wah, wah, sudah mendekati momen memperingati 40 hari kepulangan almarhum. Betapa tidak terasa waktu mengular, melata meninggalkan kita, di belakang serpihan kenang-kenangan yang berguguran.

Hanya beberapa hari ke depan, mungkin akan ada tahlilan 40 hari, melangitkan doa baginya. Tetapi, saat mendengar namanya disebutkan di masjid Al-Barokah tadi malam, saya baru menyadari penuh keharuan, beliau tak lagi hadir di tengah jemaah.

Ya, tadi malam masjid Al-Barokah BKP Blok O menyambut datangnya tahun baru 1448 Hijriyah. Merayakan datangnya bulan Muharram tahun ini tak ada lagi sosok Pak Syukur di tengah-tengah jemaah. “Biasanya beliau aktif,” kata seseorang.

Seseorang yang saya maksud adalah salah satu pengurus masjid yang memberikan sambutan. Mendengar nama Pak RT. 05 Blok N/O itu disebut, tentu jemaah yang hadir di masjid akan tercekat kerongkongannya, merasa seperti kehausan.

Haus yang lebih tepat disebut kangen. Terhadap roman mukanya yang selalu ceria, ramah, dan humble. Terhadap jokes-jokes beliau yang pasti memancing tawa terbahak atau sekadar senyum ditahan. Atau hal-hal lain yang tak ada duanya.

Tadi subuh saya coba ikut berjemaah di masjid Al-Barokah. Mencoba suasana di luar yang biasa saya ikuti di masjid dekat rumah. Tidak jauh jarak antara masjid Al-Barokah dengan masjid kami di Blok P. Berjalan kaki tidak sampai berkeringat.

Kalau subuh pakai kunut, sama belaka masjid kami. Yang membedakan, masjid Al-Barokah ada taklim hadis setiap habis salat. Ada yang maju membacakan terjemahan hadis, entah satu atau dua hadis. Di masjid kami tidak ada begitu itu.

Dahulu sih pernah ada, lama-lama berhenti sendiri. Tiap ada yang maju hendak membacakan hadis, kami berdiri dan meninggalkan masjid. Kami kok menganggap hal itu justru mengganggu khusyuk berzikir. Sudah, ah, mending zikir di rumah sajalah.

Ada kawan ngedumel, “Semua ada di YouTube, tinggal cari sendiri dan dengerin, gak perlu baca-baca hadis yang konteksnya nggak cocok dengan kekinian.” Ada benarnya juga apa yang didumelkan kawan itu. Makanya, ia memilih pulang saja.

Yang dimaksud kawan “konteksnya nggak cocok dengan kekinian” itu karena hadis yang dibacakan diambil acak asal buka saja buku halaman sekian, bukan dipilih dan ditandai dahulu hadis yang bakal mengena dan diterima. Itu yang kemudian dibaca.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...