Langsung ke konten utama

Lelaki Sholeh Itu...

Saya sedikit memendekkan langkah karena Kamis (11/6) selumbari, saya menempuh perjalanan ke Garuntang, menghadiri temu kangen reuni kecil mantan Kerabat Kerja tamTAMA (KKT) dan Lampung Ekspres Plus, maka ‘safari jumat’ cukup di masjid terdekat. Kembali lagi saya ke masjid Al-Anshor, BKP. Apalagi panas terik bikin segan pergi jauh-jauh terpapar panas matahari.

Masjid Al-Anshor selalu penuh, entah dari mana para jemaah itu berdatangan. Yang pasti dari luar Perumahan Bukit Kemiling Permai. Parkiran mobil dan motor selalu terisi kendaraan pengunjung yang akan salat Jumat. Warga sekitar yang salat jumatan di Al-Anshor bisa dihitung jari. Pasalnya, tiap blok di Perum BKP ada masjid. Blok O yang terdekat Al-Anshor (blok N) punya masjid sendiri.

Ilustrasi | YouTube

Dari rumah saya berjarak +400 meter. Jogging pagi biasa melewati jalan di dekat masjid ini, bablas ke Blok M lalu turun ke arah Blok T, U dan Blok Z. Lalu mengarah ke Blok Y, mampir beli gorengan untuk teman ngopi. Di masjid Al-Anshor sesekali ada jumat berkah dari 'komunitas berbagi' yang juga datang dari luar Perumahan Bukit Kemiling Permai berupa nasi atau bubur.

Sepanjang masa ‘safari jumat’ saya jalanai sejak 3 Januari hingga Jumat selumbari, ada saja ketemu jumat berkah. Sebenarnya saya tak peduli bakal kebagian apa tidak. Karenanya, saya gak ikut-ikut mengantre. Ketika hendak menghidupkan motor, didatangi orang dan bertanya, “Pak, sudah dapat nasi?” Karena memang belum, jawaban jujur tentu saja belum! Oleh bapak itu dikasih.

Masak iya belum saya jawab sudah, itu berbohong namanya. Kan agama melarang pemeluknya berkata dusta. Pemberian itu tentu saja saya terima dan menghaturkan ucapan terima kasih. ‘Safari jumat’ berkeliling ke masjid-masjid, hikmahnya bisa merasakan nuansa masjidnya dan mendapat pengetahuan baru dari khutbah jumat yang mungkin baru saya dengar.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun menganjurkan umatnya menuntut ilmu hingga ke negeri Cina. Masak dari masjid ke masjid yang tak begitu berat tak bisa. Ah, jangankan ke negeri Cina, ke masjid dekat rumah saja tidak berjemaah. Ada seloroh yang sepenuhnya benar, “Bagi lelaki sholeh salat fardhunya di masjid. Kalau salat fardhunya di rumah, itu lelaki sholehah.”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...