Hari ini ada dua perayaan dalam hidup manusia yang satu sama lain berkaitan karena berada dalam siklus waktu yang berangkai. Perayaan yang pertama, yaitu walimatul urusy yang diselenggarakan tetangga beda RT. Perayaan kedua, menyempurnakan jenazah seorang yang meninggal dunia bagi keluarga yang dirundung musibah duka.
Dalam hidup manusia, akan ada pada fase perayaan-perayaan berkait dan
berangkai. Mulai dari lahir, menikah, dan meninggal. Janin yang lahir dalam
wujud bayi akan sampai pada fase jadi dewasa lalu menikah. Hasil pernikahan itu
membuahkan janin dan dilahirkan dalam wujud bayi. Di antara fase-fase itu,
meninggal datang menyelinap sebagai tamu.
![]() |
| Ilustrasi | foto: Surau.co |
Bagaimana tidak dianggap tamu. Ia (maut) datang sembarang waktu. Tidak ada
sesiapa pun yang bisa menerka kapan yang namanya meninggal/mati akan datang
bertandang kepada diri seseorang. Sehingga di antara fase-fase lahir, menikah, dan
meninggal, maka meninggallah yang tidak bisa direncanakan seperti halnya melahirkan
jabang bayi dan menikah.
Hari ini ada dua penyair dikabarkan meninggal. Yang pertama, H. Fahmi Wahid, sastrawan dan
seniman Kalimantan Selatan. Lahir 3 Agustus 1964, wafat 10 Januari 2026 pukul 09:40 WITA. Yang kedua, Cunong Nunuk
Suraja bin Sutrisno Wiryodisastro, penyair Jogja tahun 1970an asuhan Umbu Landu
Paranggi, Presiden Penyair Malioboro di Persada Studi Klub.
Fahmi Wahid dikenal sebagai penyair POCI karena tergabung dalam Komunitas Negeri Poci. Saya baru tahun kemarin tergabung dalam komunitas POCI ini dan baru masuk dalam buku antologi ZAMRUD. Tentang Fahmi Wahid, barangkali sudah tergabung dalam beberapa antologi yang dilahirkan POCI sesuai dengan panjangnya waktu ia tergabung di dalamnya.
Ada 5 (lima) grup WhatsApp yang saya dan Fahmi tergabung di dalamnya sebagai anggota. Temu Karya Serumpun, Bahasa Ibu Bahasa Darahku, Partey Penulis Puisi, Komunitas Negeri Poci, dan Dialog Lima Sungai. Tapi, antologi puisi yang memuat nama kami dalam satu buku adalah ZAMRUD dan Semesta Ingatan – Trauma dan Imaji Kebebasan.
Entah mengapa kok dalam buku Bahasa Ibu Bahasa Darahku, Fahmi tidak ikut. Kendati tidak kenal secara personal terhadap kedua penyair yang berpulang ke Rahmatullah, lewat grup WhatsApp saya sampaikan ucapan dukacita sebagai ungkapan simpati kepada keluarga yang ditinggalkan. Selain yang berpulang, penyair Sukardi Wahyudi dikabarkan opname di RS.
Taburan doa agar penyakitnya diangkat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga kembali sehat dan kuat sebagaimana biasa, bisa berkarya secara produktif lagi. Pesan berantai memenuhi grup-grup WhatsApp manakala kabar itu disebar oleh kawan-kawan. Ya, semoga beliau disehatkan, diberi kekuatan untuk melanjutkan kerja kepenyairan dan eksistensi sastra.

Komentar
Posting Komentar