Langsung ke konten utama

Kabar Penyair Pergi (3)

Lagi, ada kabar duka, penyair berpulang. Iyut Fitra yang baru belakangan saya sadar kalau ia seorang pria. Berulang kali saya ketemu puisinya di Kompas Minggu atau Republika Ahad dengan asumsi dirinya seorang wanita. Rupanya itu adalah nama pena dalam berkarya yang diambil dari nama lengkapnya Zulfitra.

Di Threads juga ada yang berkomentar, menyangka kalau Iyut Fitra seorang wanita. Artinya, bukan saya seorang yang dikecohkan namanya waktu sering diketemukan pada puisinya di dua koran di atas. Karena saya rajin beli Kompas dan Republika edisi hari Minggu, jadi sering bertemu dengan puisinya Iyut Fitra.

Chairil Anwar dalam buku "Si Bintang Jalang"

Seandainya sejak mula ia menggunakan nama Zulfitra, tanpa membaca bionarasi yang menjelaskan tempat lahirnya, niscaya saya akan menebak pastilah berasal dari Sumatra. Nama dengan huruf “Z” sangat kental dipergunakan oleh orang Sumatra terutama pada suku Melayu Riau, Minang, dan Lampung.

Iyut Fitra meninggal tanggal 27 April atau sehari sebelum perayaan Hari Puisi Nasional, 28 April yang merupakan tanggal wafatnya Chairil Anwar yang dikenal dengan julukan “Si Binatang Jalang” dan karena berani mendobrak gaya puisi lama dengan gaya bahasa yang ekspresif, ia disebut pelopor Angkatan 45.

Joko Pinurbo juga meninggal tanggal 27 April, tepatnya dua tahun lalu. Penyair yang lahir di Palabuhanratu, Sukabumi, ini suka menjadikan benda-benda yang akrab dalam kesehariannya sebagai metafora dalam puisi-puisinya. Misalnya, celana, sarung, becak, pintu, tali jemuran, dll. sehingga terkesan lucu.

Merayakan Hari Puisi Nasional tahun 2025 saya hadir di Teater Kecil Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. Saya dipanggil naik panggung untuk menerima buku antologi puisi “Si Binatang Jalang” satu panggung dengan Helvy Tiana Rosa, Kurnia Effendi, Devi Matahari, dan Fikar W. Eda. Fikar W. Eda membaca ulang deklarasi HPN.

Tahun ini tak ada magnet yang menarik saya untuk hadir di Perayaan Hari Puisi Nasional (PHPN) 2026 di TIM. Ada even menulis puisi ditaja RMI (Ruang Merdeka Inspira), Lingkar Sajak Jaksel, dan Puisi Peduli yang buku direncanakan launching 28 April bersamaan PHPN di TIM, tapi sampai hari ini belum ada hasil kurasinya.

Agak mengherankan juga, hingga hari-H digelarnya Perayaan Hari Puisi Nasional, hari ini (28 April 2026) jangankan launching buku, wong pengumuman siapa yang puisinya lolos kurasi saja tak muncul. Tahun lalu bisa tepat waktu, antologi “Si Binatang Jalang” benar-benar di-launching bersamaan dengan PHPN di Teater Kecil.

Selamat Hari Puisi Nasional dong deh… kendati ada yang membuat saya termangu-mangu. Yaitu hasil kurasi puisi bertema "kemanusiaan" yang belum ada hingga tiba hari-H diadakannya PHPN oleh berbagai komunitas. Tahun ini diadakan ziarah ke makam Chairil Anwar. Menteri Kebudayaan Fadli Zon berkesempatan hadir.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Note ato Catatan (1)

Banyak momentum kelewat gak ingat. Kelewat dan berlalu begitu saja, tahu dan sadar ketika ada yang memberi tahukan dan menyadarkan. Di sini sebenarnya letak pentingnya menulis catatan dalam note atau memo agar selalu ingat atau tidak terlupa. Di ponsel tersedia yang namanya 'note' atau 'catatan', bergantung apa bahasa yang disetting dan digunakan si punya ponsel. Ponsel saya disetting bahasa Inggris, maka terbaca 'note' untuk aplikasi bawaan gawai itu. Ilustrasi | image source: Career Advice Jobs.ac.uk | Membuat catatan di kalender pun bisa, bahkan lebih representatif coz begitu tanggal itu akan tiba, sudah ada notifikasinya. Seperti tanggal kelahiran karena saya tandai ulang tahun, selalu di-notif oleh google. Berapa hari sebelum tanggal lahir akan tiba, google mengingatkan saya 'akan ulang tahun' dan saat tiba tanggal itu, google memberi ucapan 'selamat ulang tahun zabidi' dengan hiasan balon beterbangan. Satu hari sebelum tanggal lahir saya, ...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...