Lagi, kabar duka, penyair
berpulang. Iyut Fitra yang baru belakangan saya sadar kalau ia ini seorang pria.
Berulang kali saya baca puisinya di Kompas Minggu
atau Republika Ahad dan asumsi ia seorang wanita. Rupanya
itu adalah nama pena dalam berkarya yang diambil dari nama lengkapnya Zulfitra.
Di Threads juga ada yang berkomentar, menyangka kalau Iyut Fitra seorang wanita. Artinya, bukan saya seorang yang dikecohkan oleh namanya waktu sering diperjumpakan dengan puisinya di dua koran di atas. Karena saya rajin beli Kompas dan Republika edisi hari Minggu, jadi sering bertemu dengan puisinya Iyut Fitra.
![]() |
| Chairil Anwar dalam buku "Si Bintang Jalang" |
Seandainya sejak mula ia menggunakan
nama Zulfitra, tanpa membaca bionarasi yang menjelaskan tempat lahirnya,
niscaya saya akan menebak pastilah berasal dari Sumatra. Nama dengan huruf “Z”
(Zul atau Rizal) kental dipergunakan oleh orang Sumatra terutama pada suku
Melayu Riau, Minang, dan Lampung.
Iyut Fitra meninggal dunia tanggal 27 April
atau sehari sebelum perayaan Hari Puisi Nasional, 28 April yang merupakan
tanggal wafatnya Chairil Anwar yang kita kenal dengan julukan “Si Binatang Jalang”
dan karena berani mendobrak gaya puisi lama dengan gaya bahasa yang ekspresif,
ia disebut pelopor Angkatan 45.
Joko Pinurbo juga meninggal tanggal 27
April, tepatnya dua tahun lalu. Penyair yang lahir di Palabuhanratu, Sukabumi,
ini suka menjadikan benda-benda yang akrab dalam kesehariannya sebagai metafora
dalam puisi-puisinya. Misalnya, celana, sarung, becak, pintu, tali jemuran,
kamar mandi, dll. sehingga terkesan lucu.
Merayakan Hari Puisi Nasional tahun
2025 saya hadir di Teater Kecil Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki.
Saya dipanggil naik panggung menerima buku antologi puisi “Si Binatang Jalang”
sepanggung dengan Helvy Tiana Rosa, Kurnia Effendi, Devi Matahari, Fikar W.
Eda. Fikar W. Eda membaca ulang deklarasi HPN.
Tahun 2026 ini tak ada magnet yang
menarik saya tuk hadir di Perayaan Hari Puisi Nasional (PHPN) di TIM. Ada even
menulis puisi ditaja Ruang Merdeka Inspira, Lingkar Sajak Jaksel, dan Puisi
Peduli yang buku direncanakan launching 28 April bersamaan
PHPN di TIM, tapi sampai hari ini belum ada hasil kurasinya.
Agak mengherankan, hingga hari-H
digelar Perayaan Hari Puisi Nasional, hari ini (28 April 2026) jangankan di-launching bukunya, wong pengumuman
siapa yang puisinya lolos kurasi saja tak muncul. Tahun lalu bisa tepat waktu,
antologi “Si Binatang Jalang” benar-benar di-launching bersamaan
dengan PHPN di Teater Kecil.
Selamat Hari Puisi Nasional deh…
kendati ada yang membuat saya termangu-mangu. Yaitu hasil kurasi puisi bertema
"kemanusiaan" yang belum ada hingga tiba hari-H diadakan PHPN oleh
berbagai komunitas. Tahun ini diadakan ziarah ke makam Chairil Anwar. Menteri
Kebudayaan Fadli Zon berkesempatan hadir.

Komentar
Posting Komentar