Langsung ke konten utama

Kabar Suka dan Duka

Setelah tadi malam dapat kejutan hasil kurasi antologi untuk PMK (Puisi Menolak Korupsi) bertema "MBGendam" yang ditaja Sosiawan Leak. Sore ini mendapat kejutan lainnya, saya lolos kurasi antologi bertema "Belajar Tidak Korupsi, Berhenti Main Akal-akalan" dari Kindai Seni Banjarmasin melalui akun facebook-nya. Lolos kurasi dua even ini, bauran perasaan senang jadi pengantar tidur.

Ada irisan antara MBGendam dan Belajar Tidak Korupsi, Berhenti Main Akal-akalan, yaitu sama-sama bertema anti-korupsi. Puisi yang senapas seperti ini sekilas tidak begitu susah mengarangnya. Setelah even yang pertama, "MBGendam" selesai, masih ada sisa-sisa spirit mengarang puisi untuk even kedua, "Belajar Tidak Korupsi, Berhenti Main Akal-akalan". Jadi, langsung saya merangkainya.

Salah satu lembar lampiran pengumuman hasil kurasi "Antologi Kindai 2026"

Untuk "MBGendam" saya kirim 5 puisi via e-mail, belum karuan berapa puisi yang bakal masuk ke dalam buku antologi PMK. Sedangkan untuk "Belajar Tidak Korupsi, Berhenti Main Akal-akalan" saya kirim 5 puisi via g-form dan terpilih 3 puisi yang lolos kurasi untuk menghuni halaman buku antologi puisi "Belajar Tidak Korupsi, Berhenti Main Akal-akalan". Jadi, dua hari ini ada dua kabar gembira saya terima.

Sosok Pak H. Dinullah Rayes (almarhum)

Di samping dua kabar suka di atas, terselip pula kabar duka. H. Dinullah Rayes, penyair Sumbawa wafat bakda salat Jumat tadi siang. Kabar duka menyeruak di grup-grup WhatsApp yang meringkus nama saya sebagai anggota. Saya agak lupa (perlu mengecek buku), kami (saya dan Pak H. Dinullah Rayes pernah tergabung di buku antologi apa saja. Sepertinya di buku "Bahasa Ibu, Bahasa Darahku."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...