Langsung ke konten utama

"Untung Ada Saya"

Mbah Google itu nolong banget. Apa yang tak kita ketahui, bila ditanyakan kepada ‘beliau’ niscaya akan diberi jawaban dengan sejelas-jelasnya olehnya. Bisa dikatakan nggak cuma nolong, tapi juga ngemong dan serba tahu sesuatu atau bagai macam hal ihwal yang mungkin amat awam bagi kita.

Ada kabar lelayu di grup WhatsApp perihal kepulangan seseorang yang dari namanya masih awam bagi saya. Sejauh ingatan saya, belum pernah mendengar nama apalagi profesinya. Karena kabarnya tersiar pada WAG komunitas sastra, tentu ia seorang sastrawan juga.

Ilustrasi | credit title: SlashGear |

Saya langsung googling mencari tahu. Mbah Google menjelaskan kalau beliau dijuluki sebagai dedengkot Teater Bulungan (ia lulusan di SMA VI Jalan Mahakam 1966) yang pada Maret ini genap berusia 78 tahun. Dikatakan juga ia jebolan FISIP UI 1975.

Mafhumlah saya kalau ia adalah teaterwan yang kegiatannya itu tak terpisahkan dengan lakon berdasarkan naskah cerita yang beririsan dengan sastra. Dijelaskan pula ia aktif membaca puisi bersama Tarech Rasyid dan Tri Agus pada tahun 2021.

Mas Uki Bayu Sejati saat dirawat di RS 

Ya, yang saya maksud di sini adalah Uki Bayu Sejati (mungkin kalau versi ejaan nama yang lahir sebelum tahun 1972 tatkala EYD diberlakukan) namanya adalah Uki Baju Sedjati. Tapi, kalau pun pakai ejaan lama, konteks kekinian menjadi Uki Bayu Sejati.

Dan saking serba-tahu Mbah Google, disebutkannya pula Mas Uki Bayu Sejati dengan nama lain Umianto Basuki adalah editor buku di Penerbit Nuansa Cendekia. Tak hanya itu, kondisi sakitnya di bulan Maret lalu pun terekam di laman pencarian Google.

Doa saya di facebook Dari Negeri Poci 

Ya, akun facebook komunitas Dari Negeri Poci (27/3) atau 3 minggu silam, memposting foto Mas Uki di bangsal rumah sakit. Saya kasih like dan komen; "Syafakallah, semoga cepat sehat dan pulih, aamiin. Ternyata Mas Uki berpulang. Atas takdir Allah jua.

“Kalau bulan bisa ngomong….,” kata Doel Sumbang. Nah, iya juga, kalau Mbah Google bisa ngomong, tentu akan berkata, “Untung Ada Saya.” Ini mengingatkan pada celetukan pelawak Gepeng di panggung Srimulat di masa Orde Baroe tempo doeloe.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...