Langsung ke konten utama

Kabar Penyair Pergi (1)

Satu per satu kabar penyair berpulang tersampaikan melalui WhatsApp Grup. Ada puluhan WAG yang meringkus nama saya ke dalamnya sebagai anggota. WAG yang jadi jembatan komunikasi (salam sapa) bercanda antarpenyair –digawangi oleh admin– yang mengikuti lomba menulis puisi untuk dikurasi kemudian dibukukan dalam antologi bersama.

Perginya sang penyair di usia matang, tidak muda lagi tapi belum begitu tua, memantik saya menciptakan puisi di bawah ini. Frasa “di waktu masih agak pagi” menggambarkan usia yang masih muda. Lalu, frasa “tidak terjadi barangkali” dan “setelah senja semestinya” menggambarkan bahwa seolah mati layak terjadi ketika seseorang sudah menjadi tua. 

Padahal, mati bukan perkara muda atau tua. Bukan masalah ‘masih pagi atau sudah senja’. Mati terjadi bukan berdasarkan daftar urut, melainkan daftar cabut. Begitulah, jika sudah waktunya Malaikat pencabut nyawa datang memenuhi perintah Tuhan untuk memanggil pulang seseorang, maka tak urung matilah seseorang itu, tak terikat pada siap tidak-siap.

Selamat jalan kawan-kawan penyair yang berpulang. Pulanglah dengan damai.

 

Kabar Penyair Pergi

Puisi Zabidi Yakub

kabar bertubi minggu ini
satu-satu penyair pergi
bukan ke panggung
baca puisi
melainkan ke wilayah
sepi. menyendiri

bukan mengasingkan diri
memulut inspirasi
dibuat jadi larik puisi
melainkan diasingkan
ke wilayah musim semi
karena telah mati

minggu-minggu ini
kabar penyair pergi
satu-satu sampai ke kami
mencipta duka di hati
keluarga yang mengasihi
sahabat yang menyenangi

kabar penyair pergi
di waktu masih agak pagi
mencipta nuansa ngeri
diam mengendap-endap
maut yang mengintai
langkah dimata-matai

apakah waktu pergi
tidak terjadi barangkali
setelah senja semestinya
begitulah. aku menyadari
bekal amal akan dibawa
bukan antologi puisi

 

Kemiling Permai, 27 November 2025



tautan terpublikasinya puisi di atas pada akun facebook Komunitas Negeri Poci 

https://www.facebook.com/groups/671560209615143/posts/24662465816764580/


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...