Langsung ke konten utama

Datang dan Pergi (2)

Saya mempergunakan lagi judul di atas dengan menambahkan angka 2 dalam tanda kurung, setelah digunakan di postingan blog ini pada 10 Mei. Tentu, saya mesti merevisi judul di tanggal 10 Mei itu dengan menambahkan angka 1 dalam tanda kurung sebagai garis sambung keterkaitan judul itu.

Teman lama saya yang masih bertungkus lumus di dunia media siber atau media daring, meminta puisi saya untuk dimuat di media yang ia kelola, “Lumayan buat nambah-nambah halaman,” alasannya. Media dengan kru lapangan terbatas, memang susah-susah gampang menangguk bahan berita buat isi halaman.

Itulah kenapa banyak media daring di daerah berafiliasi dengan media besar di ibu kota Jakarta (Jakarta masih ibu kota, ya) setelah sengketa hukum IKN di MK ditolak oleh Majelis Hakim MK lewat putusan Nomor.71/PUU-XXIV/2026 yang menegaskan bahwa Daerah Khusus Jakarta (DKJ) tetap berstatus sebagai ibu kota negara.

Dengan berafiliasi dengan media besar di Jakarta atau kota besar lainnya (Bandung, Semarang atau Surabaya) memungkinkan media di daerah bisa "seenaknya" main copy paste saja berbagai berita yang ada pada situs web media daring induknya di Jakarta atau kota besar lainnya sehingga terkesan media daerah itu full news.

Padahal, dengan mengelola sendiri media di daerah, justru akan menguatkan jati diri sebagai pengawal pembangunan daerahnya masing-masing. Beritanya murni mengenai "isi perut" daerah tersebut dari hulu sampai ke hilir. Bukan media yang isinya berita antah berantah yang tidak ada hubungan dengan daerah.

Masuk ke topik sing nggenah. Tentang judul yang disemati angka 2. Jadi, ceritanya, tadi dini hari sekira pukul 01:24 si teman mengirimkan pdf halaman “Budaya” yang memuat puisi saya. Tentu saja di jam (waktu) segitu saya sedang lelap-lelapnya karena saya baru berangkat ke bilik peraduan satu jam sebelumnya.

Saya baru tahu kiriman pdf itu ketika selesai ngaji bakda subuh dan baru memasuki waktu untuk buka hp (pukul 05:42) dan memeriksa pesan whatsapp. Saya haturkan terima kasih banyak padanya atas dimuatnya puisi saya di media yang ia kelola. Tak tanggung-tanggung, 1 halaman full ia sediakan untuk 5 puisi.

Kiriman pdf itu saya maknai sebagai yang ‘datang’ sedangkan pada pukul 09:09 saya lepas file puisi untuk 'niat' memenuhi “Undangan Terbuka Menulis Antologi ‘Ramu-Ramu Warteg’ Dewan Kesenian Kabupaten Tegal 2026” yang deadline-nya akan jatuh pada tanggal 30 Mei mendatang. Ini saya maknai sebagai yang ‘pergi.’

Ucapan dukacita di facebook Sastra Rumah Bamboe

Di balik kedua hal di atas, tersampaikan kabar duka. Bayu Winarno (Bayu Win) pendiri komunitas Penyair Lintas Maya (Pelita) dan Langit Fajar Publisher, telah pulang ke Rahmatullah pada Jumat (15/5) dini hari pukul 03:00 PM. Ia juga admin di facebook Sastra Rumah Bamboe yang saya baru saja bergabung.

Hanya ucapan turut berbelasungkawa yang bisa saya sampaikan melalui grup whatsapp yang meng-share kabar duka tersebut. Kepulangan seseorang kembali ke haribaan Ilahi Rabbi juga bisa dimaknai sebagai yang ‘pergi’ atau sebagai yang berangkat. Ya, Bayu Winarno ‘berangkat’ meninggalkan keluarga yang ia cintai.

Keluarga yang bukan terbatas pada istri dan anak-anaknya semata, melainkan ‘keluarga’ dalam lingkup komunitas yang juga ia cintai. ‘Keluarga’ dalam arti sesiapa pun yang dekat dan yang jauh. Yang ia kenal dekat atau pun yang cuma ia kenal melalui pertemanan di facebook. Semua itu, baginya adalah ‘keluarga’.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...