Lagi, kabar kematian berkesiur seperti tiupan angin pagi yang lembab oleh hujan semalam. Aloeth Pathi (Noer Lutfi) divisi sastra Lesbumi PCNU Kabupaten Pati, pagi ini di grup WhatsApp terkabar meninggal dunia. Dan, lafaz 'Innalilahi wa inna ilaihi raji'un' bertumbuhan memekarkan kembang duka.
Penyair kelahiran Pati, ini menyematkan nama kota tempatnya lahir menjadi nama pena dalam aktivitas kesastraan. Mengingatkan saya pada sosok Akhlis Suryapati yang juga kelahiran Pati dan menyisipkan kata 'pati' pada nama belakangnya. Dulu wartawan Minggu Pagi, kini Akhlis dikenal sebagai sutradara.
Ada lagi penyair asal Pati menyematkan 'pati' pada namanya, yaitu Ragil Suwarno Pragolapati. Nama dan puisinya kerap dibaca dalam acara "Apresiasi Sastra" di radio Retjo Buntung, Jogja, tahun 1980-an. Balik dari Malang 1990, saya baca di KR, RSP dinyatakan moksa di pantai laut selatan saat laku yoga sastra.
Sebelumnya ada seorang penyair laskar PMK (Puisi Menolak Korupsi) #10 antologi MBGendam, Satriyo Wahyu Anggoro, S.Pd.SD (guru) yang beralamat Desa Mantingan RT. 12 RW. 06, Dukuh Ndukoh, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, meninggal dunia pada Jumat, 22 Mei 2026 di RSUD Loekmono Hadi, Kudus.
***
Belum tiris betul duka yang menyuasanai setelah kepulangan almarhum Pak RT, Drs. Syukuruddin yang tahlilan nujuh hari Jumat lalu sempat digoda mati lampu sekitar 2 jam. Minggu pagi kemarin hujan menggoda kehendak grup senam yang diikuti Pak Syukur bergerak badan. Entahlah, senam atau tidak.
Saya tidak bisa memantaunya, apakah mereka tetap senam kendati hujan. Karena hujan, saya tidak keluar untuk mencari camilan sebagai teman ngopi. Jadilah seperti yang saya ceritakan kemarin, ngopi ditemani biskuit dan buah. Apa pun camilannya yang penting ngopi gak boleh ditinggal. Apalagi pas hujan, ohhhh...
Andai grup senam itu masih bergerak badan tanpa merasa diganggu hujan. Dihitung sejak wafat, berarti kemarin adalah Minggu pagi kedua Pak Syukur tidak lagi membersamai mereka. Kalau dihitung sejak sakit dan dirawat di RS, mungkin lebih dari empat Minggu pagi Pak Syukur tidak ada di tengah kawan lansianya.
Tinggal istrinya saja yang akan terus bergerak badan bersama kawan-kawan lansia grup senam itu. Tentu akan sedikit merepotkan anaknya untuk mengantar jemput. Itu pun kalau Ibu Syukur mau, kalau malas karena nggak ada Pak Syukur, ya, berarti nggak akan membersamai kawan-kawan lansia yang energik itu.
Komentar
Posting Komentar