Langsung ke konten utama

Belum Ia Baca

Tadi malam rampung saya membaca 103 puisi dari 49 pemuisi (termasuk saya) dalam buku “HIJAU” yang hampir kesemuanya menarasikan hutan, pohon, hijau, melestarikan alam serta bencana apabila hutan gundul karena kayu ditebangi secara destruktif.

Pagi ini, kabar duka disampaikan admin di WhatsApp Grup (WAG) kontributor "HIJAU" bahwa satu penulis dalam buku ini berpulang. Ia bernama asli Drs. Abdul Karim, M.M. (Abah Karim) dan dalam tiap karya tulis memakai nama alias (nama pena) Oka Miharzha S.

Ucapan dukacita Dewan Kesenian Tanah Laut 

Ucapan belasungkawa dan doa semoga beliau husnul khotimah disampaikan teman-teman di WA grup. Yang membuat saya sedikit masygul, bahwa buku “HIJAU” jatah untuknya belum sempat dikirimkan admin/panitia karena beliau pesan kaos juga. Akan dikirim bersama.

Dengan begitu, berarti 3 judul puisi karyanya yang ada di buku “HIJAU” belum sempat ia baca setelah termuat di halaman buku (halaman 193–195). Kendati sudah dibacanya pada saat menulisnya, namun tentu terasa berbeda (taste-nya) bila membacanya di dalam buku.

Kepergian penyair yang diamanahi menjadi Penasihat Dewan Kesenian Tanah Laut (Kalimantan Selatan), ini menegaskan lagi bahwasa betapa kematian itu amat dekat. Sudah berkali-kali hal ini saya jadikan konten blog ini sebagai catatan pengingat bagi diri sendiri.

Setelah tuntas tadi malam membaca kesemua puisi, selanjutnya beralih membaca esai dan nanti lanjut ke cerpen. Esai hanya ada 6 dengan panjang 1 setengah sampai 2 halaman buku. Sepanjang daya kedip mata tahan dari kantuk, tentu aman. Tetapi, bila ngantuk?

Yang sering amat terjadi, baru membaca sebanyak 2 paragraf mata saya sudah ngajak bobok. Tentu tidak bisa saya paksakan. Berhenti membaca terus bobok atau mengalihkannya kepada kegiatan lain sehingga godaan kantuk tadi lepas lelang. Mata balik terang.

Lepas lelang adalah bahasa arkais, maknanya hilang sehilang-hilangnya seperti layang-layang putus tali, melayang dibawa angin tak tentu di mana jatuhnya. Membaca adalah cara paling efektif buat pengantar tidur, bikin cepat mengantuk. Tak percaya, cobalah!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Lamban Kuning

Tidak kerap melewati jalan ini, hanya bila armada yang kami tumpangi akan masuk pintu tol mesti lewat depan lamban gedung kuning ini. Itu waktu hendak menuju ke arah Bakauheni. Begitupun sebaliknya, saat mengarah pulang, lewat jalan di sisi sebelahnya. Jalan Ryacudu, Sukarame. Tadi pagi-pagi sekali, saya bonceng istri menuju lamban gedung kuning ini yang jadi melting pot keberangkatan mereka jalan-jalan ke Dieng, Jogja, dan Solo. Berjalan santai melalui jalan Soekarno-Hatta (bypass) yang karena masih terlampau pagi sehingga belum terlampau ramai apalagi macet. Lamban Gedung Kuning kerajaan Sekala Berak Badanku yang habis 'digempur' tipes berangsur-angsur sehat. Makan tidak lagi dengan bubur, tapi sudah dengan nasi yang dimasak dengan sengaja dibikin lembut. Dibanyakkan air saat me-ngaron beras kemudian dikukus lagi di langseng selama seperempat jam baru dipindah dalam magic com . Setelah Tour Sumatera dan Tour Lombok, sekarang mereka Tour Dieng. Pada dua tour sebelumnya, ada ...

Note ato Catatan (1)

Banyak momentum kelewat gak ingat. Kelewat dan berlalu begitu saja, tahu dan sadar ketika ada yang memberi tahukan dan menyadarkan. Di sini sebenarnya letak pentingnya menulis catatan dalam note atau memo agar selalu ingat atau tidak terlupa. Di ponsel tersedia yang namanya 'note' atau 'catatan', bergantung apa bahasa yang disetting dan digunakan si punya ponsel. Ponsel saya disetting bahasa Inggris, maka terbaca 'note' untuk aplikasi bawaan gawai itu. Ilustrasi | image source: Career Advice Jobs.ac.uk | Membuat catatan di kalender pun bisa, bahkan lebih representatif coz begitu tanggal itu akan tiba, sudah ada notifikasinya. Seperti tanggal kelahiran karena saya tandai ulang tahun, selalu di-notif oleh google. Berapa hari sebelum tanggal lahir akan tiba, google mengingatkan saya 'akan ulang tahun' dan saat tiba tanggal itu, google memberi ucapan 'selamat ulang tahun zabidi' dengan hiasan balon beterbangan. Satu hari sebelum tanggal lahir saya, ...