Langsung ke konten utama

Jalan Pulang

Selesailah sudah perjalanan ke Depok untuk kondangan di Bekasi. Pagi ini dalam rangka perjalanan pulang kembali ke Bandar Lampung. Alhamdulillah, saya sempat menjalani ritus 'safari jumat' di masjid An-Nahl Tanah Baru, Beji, Depok.

Moda transportasi travel kami pilih. pertimbangan yang jadi dasar adalah bisa door to door, menjemput di rumah dan mengantar ke alamat tujuan. Ini baru kali pertama sebagai uji-coba alternatif lain di luar kebiasaan yang selama ini kami gunakan, yaitu bus.

Ini peta perjalanan dari Depok yang disetel 8 jam, habis pas di titik ini pukul 18:12 WIB.

Dengan kenyamanan yang tidak jauh beda dengan bus milik BUMN yang biasa digunakan, dan ongkos yang kami keluarkan, akan tetapi, lumayan lebih irit menggunakan travel. Nilai plus yang didapat yaitu antar jemput door to door. Duduk, diam, sampai.

Lebih worth it lagi karena tiketnya bisa dipesan via aplikasi. Hanya duduk manis sambil nyeruput kopi pelan-pelan, jari bermain-main membuka aplikasi, pencet apa yang mesti diselesaikan, selesai setelah tiket digital muncul di hp, tukar tiket cetak di agen.

Entah berangkat dari titik mana tadi --tidak sempat tanya sopirnya-- tahu-tahu menelepon mengatakan 15 menit lagi akan sampai di titik penjemputan yang kami berikan, saya dan istri keluar rumah, oleh anak dibonceng motor menuju mulut jalan diiringi mantu.

Jalan pulang kami telusuri dari Depok menuju Pasar Minggu ngejedul Pamulang, BSD (Serpong), Bitung, Cikupa, terus melaju ke arah Merak. Menyeberang Selat Sunda, menyusuri tol Bakau---Terbanggi, dan tiba di rumah pukul 18:35 dengan agak sedikit pegal.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...