Langsung ke konten utama

Tetangga dalam Ibadah

Lagi, TOA masjid melafalkan sepotong nama anak manusia yang berpulang ke Haribaan Ilaihi Rabbi tadi dini hari di bangsal dingin rumah sakit Bintang Amin. Sepotong nama yang sebelum disebutkan, tidak saya tahu. Maka, saya menebak-nebak yang mana orangnya. Mereka wajahnya.

Begitulah, ada beberapa jemaah masjid yang hanya saya kenali wajahnya dan tidak namanya. Satu per satu dipertukarkan tempat berdiri berjajar di shaf terdepan atau belakang. Kadang di kiri kadang di kanan saya dalam salat lima waktu. Pagi subuh, di siang saat Zuhur, petang Asar, dan malam Magrib.

Bendera kuning di mulut jalan tertunduk lunglai. Sesekali terjembak-jembak ditiup angin.

Tangan saling berjabat seusai salat ditutup salam, tanpa menyebutkan nama karena itu kan sedang beribadah, bukan berkenalan. Kemudian kita pulang ke rumah masing-masing mengisi jeda dan bertemu lagi di ibadah berikutnya. Sampai akhirnya ada (di antara kita) yang dipanggil pulang ke Haribaan Ilaihi.

Satu lagi bendera kuning terjembak-jembak di mulut jalan arah masuk ke alamat rumah sahibul musibah. Tertunduk lunglai, sesekali melambai ditiup angin yang numpang lewat. Memberi tanda penunjuk bagi para pentakziah yang akan berbelasungkawa bagi keluarga, bahwa itu jalan/alamat yang mesti dituju.

Satu lagi kerja kolektif warga menandu keranda menuju masjid yang di dalamnya sesosok tubuh pemilik nama terbujur kaku. Satu lagi wajah yang biasa kita lihat di masjid, terhapus dari pandangan. Itulah hiasan orang bertetangga dalam wujud sama tempat tinggal dan/atau dalam wujud peribadahan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...