Lagi, TOA masjid melafalkan sebuah nama anak manusia yang berpulang tadi dini hari di bangsal RS Bintang Amin. Sebuah nama yang sebelumnya tidak saya tahu. Maka, saya menebak-nebak yang mana orangnya. Mereka-reka rupa wajahnya.
Begitulah, ada jemaah masjid yang hanya saya kenali wajahnya dan tidak namanya. Satu per satu dipertukarkan tempat berdiri berjajar di shaf terdepan atau belakang, di kiri atau di kanan saya dalam salat lima waktu. Pagi subuh, siang, petang, dan malam.
![]() |
| Bendera kuning di mulut jalan tertunduk lunglai. Sesekali terjembak-jembak ditiup angin. |
Tangan saling berjabat seusai salat ditutup salam, tanpa menyebutkan nama karena itu sedang beribadah, bukan berkenalan. Kemudian kita pulang ke rumah dan bertemu lagi di ibadah berikutnya. Sampai akhirnya ada yang dipanggil pulang ke Haribaan Ilaihi.
Satu lagi bendera kuning terjembak-jembak di mulut jalan arah masuk ke alamat rumah sahibul musibah. Tertunduk lunglai, sesekali melambai ditiup angin yang numpang lewat. Memberi tanda penunjuk kepada para pentakziah, jalan yang mesti dituju.
Satu lagi keranda ditandu menuju masjid yang di dalamnya sesosok tubuh pemilik nama terbujur kaku. Satu lagi wajah yang biasa kita lihat di masjid, terhapus dari pandangan. Orang bertetangga dalam wujud tempat tinggal dan/atau dalam wujud ibadah.

Komentar
Posting Komentar