Biasa, Broh… saya ke Iman Jaya menjemput kawan ngopi di Minggu yang cerah, tapi kata ramalan cuaca di layar hp: berawan. Saya tengok ke atas langit tak ada awan sedikit pun, bahkan matahari tersenyum semringah di ufuk timur sana.
Melewati pertokoan Springhill yang sebagian
kosong karena pembelinya tidak memberdayakannya sebagai apa gitu. Dan, sebagian lain memang kosong
karena nggak atau belum terjual sebab harganya susah dijangkau ekonomi kelas
medium.
![]() |
| Ilustrasi, keberkahan dalam kebersamaan| sumber gambar: Instagram Islamidotco | |
Di halaman pertokoan Springhill saya lihat grup
senam baru akan memulai gerak badan. Dress code yang ibu-ibu kenakan, baju kaos
biru celana (training) putih dan jilbab putih. Sementara bapak-bapak yang cuma enam
orang berpakaian bebas.
Tak ada lagi Pak Syukur di antara
bapak-bapak itu. Kepulangan beliau ke Rahmatullah berarti kehilangan bagi
teman-teman senamnya. Kehilangan jokes-jokes yang sering dilontarkan dan
kehilangan orang yang spiritnya begitu besar.
Mengapa spirit berolah raga Pak Syukur besar? Karena beliau penyintas diabetes yang gula darah serta tensi darah senantiasa
berfluktuasi turun naik. Gembira dan berolahraga adalah obat yang lebih
mengobati bagi beliau daripada obat kimia.
Ketika beliau sudah berpulang. Bagi siapa
pun saja yang kenal dan dekat dengannya bukan kehilangan yang begitu terasa,
melainkan kebersamaan yang tiap ‘siapa pun’ itu pernah rasakan begitu bermakna.
Itulah kebersamaan yang penuh berkah.
Apalagi bila betul-betul kenal dan dekat
dengannya, kebersamaan yang bagaimana pun singkat durasi waktunya, akan betul-betul
bermakna. Dan, setelah beliau tiada, makna yang tinggal kesan belaka itu, baru
dirasa berharga. Begitulah galibnya.
Bibit kebersamaan tumbuh menjadi pohon hubungan antarmanusia yang kelak berbuah solidaritas, simpati dan empati, semangat gotong royong, dan saling peduli yang dilandasi kasih sayang tanpa menyakiti satu sama lain. Kebersamaan yang sejuk.
“Bukan perpisahan kutangisi, hanya
pertemuan kusesali.” Penggalan lirik lagu Pengorbanan
Mansyur S yang ngetop tahun 2005, itu seperti hendak menegaskannya. Pertemuan, perkenalan,
keakraban memang sering jadi sesalan, pada ujungnya.
Frasa “kusesali” pada lirik lagu Mansyur S
atau pada kenyataan yang dirasakan seseorang, bisa bermakna positif dan negatif.
Positif bila pertemuan itu terlambat terjadi. “Kenapa tidak dari dulu-dulu
bertemu denganmu,” sesalnya menggerutu.
Bermakna negatif bila pertemuan,
perkenalan, dan keakraban justru melahirkan sesal yang amat sangat. “Mengapa
mesti terjadi,” gumamnya karena pertemuan meninggalkan luka yang perihnya akan
terasa berulang-ulang sepanjang masa.

Komentar
Posting Komentar