Hanya dalam rentang waktu 10 hari dari kami membesuk (Rabu 6 Mei),
kemarin (Sabtu, 16 Mei) ia berpulang. Seperti yang saya tulis di blog ini
6 Mei di bawah judul "Si Darah Manis" pada waktu kami besuk itu, ia
masih mengeluarkan jokes-jokes segar dalam bercanda. Ia memang humoris.
Bukan sembarangan bercanda apalagi bualan kopong alias tak ada isinya, melainkan nasihat yang dikerubungi jubah canda. “Di saat sakit begini baru terasa, kita ini sendiri. Dirawat di RS bila tak ada yang menunggui, terasa betul betapa sepinya hidup ini, nangis dalam hati.”
![]() |
| Setelah jenazah Pak Syukur disalatkan |
Saya
renungkan apa yang ia katakan. Betul sekali, tak keliru. “Maka, penting bagi kita untuk
menyayangi istri. Saat dirawat di RS begini, dijagain istri
adalah 'surga dunia' bagi kita,” lanjutnya dengan wajah serius, tak terlihat
canda di balik kata-katanya.
Pukul
13:05 ia dipanggil pulang oleh Sang Khalik Pemilik Kehidupan. Kabar pun menyebar di grup WhatsApp. Jiran tetangga berdatangan ke rumah
duka, menunggu jenazah dari RS Urip. Properti untuk pemulasaraan disiapkan
rukun kematian.
Liang
lahad digali, pemakaman dilaksanakan sore (kemarin juga) karena cukup lapang
waktunya dari pemulasaraan hingga pemakaman, tak ada alasan untuk menjadikan
jenazahnya diinapkan hingga esok (hari ini). “Lebih cepat, lebih baik,” kata
Pak JK.
Menurut
putra sulungnya, saat memberi sambutan, Ayahnya berdoa agar di saat jelang
ajalnya, ia pengin dikelilingi anak-anaknya dan hal itu kesampaian. Empat
putra-putrinya, tentu juga istrinya ada semua pada detik-detik krusial menjelang
akhir hayatnya.
Ia
yang pulang tengah hari meninggalkan duka mendalam bagi istri dan anak-anak.
Meninggalkan serpihan kenangan bagi kawan karib, jiran tetangga, dan
orang-orang yang mencintai, menyayangi, dan mengasihinya. Tersimpan dalam
bagasi ingatan.
Yang
Pulang Tengah Hari
Puisi
Zabidi Yakub
pagi
tadi, hujan melangkah pelan
menapaki jalan yang sangat ia kenali
seperti ada yang hendak ia jemput
dari pembaringan sementara
bangsal rumah sakit yang dingin
setelah
hujan berhenti jelang tengah hari
ia sampaikan kabar, ada yang pulang
sambutlah kedatangannya, lalu antarkan
ke tempat pembaringan abadi
pada sebidang tanah, seluas badan
di tanah pemakaman, senja hari
yang
pulang tengah hari
meninggalkan serpihan kenangan
wajah ceria penuh canda tawa
untuk disimpan di bagasi ingatan
buka bila kangen datang tiba-tiba
Sabtu,
16 Mei 2026 | 17:18 WIB |

Komentar
Posting Komentar