Langsung ke konten utama

Jukut Goreng

Sewaktu kulineran di “Sego Tempong Warga” Tanah Baru, Depok, ada menu Jukut Goreng. Anak ragil yang sejak tahun 2021 bermukim di Jaksel udah pernah mencicipinya. Spontan ia terlonjak ketika membaca daftar menu ada jukut goreng itu. ditulislah di daftar menu yang dipesan. Namun sayang, sekian menit kemudian, pramusaji mendatangi meja kami.

Membawa buku daftar menu dan kertas pesanan kami. Pikir kami akan mengonfirmasi ulang menu yang kami pesan. Tak tahunya memberi tahu bahwa jukut goreng sedang tidak tersedia. Yah, anak ragil gelo. Kami yang penasaran pengin coba lebih gelo lagi. Kepalang dah. Untuk sementara kami nikmati menu yang ada dulu.

Jukut goreng | foto: RRI |

Kami simpan keinginan mencoba jukut goreng menjadi tabungan. Nanti bila kapan-kapan ke Jakarta lagi akan memburunya di mana yang ada. Nah, dua hari lalu anak ragil ngirimin video tiktok tentang jukut goreng warung kuliner milik Aa' Epy Kusnandar (Kang Mus) di Jakarta Selatan. “Nanti kita ke sana, ya, Dek,” komen ibunya.

Hebohlah grup WA keluarga dan terpetakanlah rencana “membuka tabungan” keinginan mencoba jukut goreng yang disimpan. Bakal ke warung Kang Mus berarti nanti apabila ke Jakarta. Tetapi, sayangnya gak bakal ketemu si empunya warung karena Kang Mus sudah berpulang pada 3 Desember 2025 pukul 14:24 WIB.

Oya, bukankah istri Kang Mus orang Ranau. Hal ini saya katakan di grup WA keluarga untuk memberitahu ‘Adek’ (anak ragil) yang meng-share video tiktok jukut goreng di warung Kang Mus. Tapi, apa mungkin istri Kang Mus selalu ada di situ? Sepertinya nggak mungkin. Sebagai selebritis yang banyak job, tentu dia pepak kesibukan.

Jukut adalah bahasa Sunda untuk penyebutan pada sayuran hijau. Ada banyak macam jukut (siraru, pahit, kamanilan, karukun, pendul, dan meurit). Sedangkan untuk jukut goreng mengarah kepada jenis selada air (watercress), bahasa latinnya Nasturtium of ficinale. Jadi, jukut goreng adalah hidangan khas Sunda.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Jam Rusak Jangan Dibuang

Nah, benar belaka apa yang saya ujarkan dalam postingan blog kemarin, bahwa ada orang membiarkan jam dinding mati, terpacak bisu di tembok ruang tamu (dijadikan hiasan dinding). Padahal, tinggal ganti mesin bisa hidup kembali. Bapak pemilik “Omega Arloji” di Bambu Kuning Trade Center, mengemukakan hal itu. Sambil si Bapak dan putrinya mengganti mesin jam kami, si Bapak berkata, “Ada orang main buang jam yang udah mati, padahal masih bisa diganti mesinnya.” Berbagai merek jam tangan jualan "Omega Arloji" kios No.254 Bambu Kuning Trade Center. “Kemarin siang ada orang bawa tiga jam ke sini. Sebelumnya ada empat jam dibuangnya,” lanjut si Bapak menceritakan ketertegunan klien yang baru ngeh ternyata jam dinding mati masih bisa dipakai dengan cara mengganti mesinnya. Sesepele itu. Si Bapak juga terkagum-kagum pada merek jam dinding kami, NAGOYA. Katanya, ini sudah nggak diproduksi, tadinya banyak kami jual, sekarang tinggal satu itu seraya ia tunjukkan jam di tembok kio...

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...