Nah, benar belaka apa yang saya ujarkan dalam postingan blog kemarin, bahwa ada orang membiarkan jam dinding mati, terpacak bisu di tembok ruang tamu (dijadikan hiasan dinding). Padahal, tinggal ganti mesin bisa hidup kembali.
Bapak pemilik “Omega Arloji” di Bambu
Kuning Trade Center, mengemukakan hal itu. Sambil ia dan putrinya mengganti
mesin jam kami, ia berkata, “Ada orang main buang aja jam yang udah mati,
padahal masih bisa diganti mesinnya.”
![]() |
| Berbagai merek jam tangan jualan "Omega Arloji" kios No.254 Bambu Kuning TC. |
“Kemarin ada orang bawa tiga jam ke sini. Sebelumnya
ada empat jam dibuangnya,” lanjut si Bapak menceritakan ketertegunan klien yang
baru ngeh ternyata jam dinding mati masih
bisa dipakai dengan cara mengganti mesinnya.
Si Bapak juga terkagum-kagum pada merek jam
dinding kami, NAGOYA. Katanya, ini sudah nggak
diproduksi, tadinya banyak kami jual, sekarang tinggal satu itu seraya ia
tunjukkan jam di tembok kiosnya. Sekilas saya menengok jam itu.
Kami ceritakan, jam itu sudah berumur 33
tahun, setidaknya dihitung dari kami mengasuhnya. Asal muasalnya adalah kado
teman saat kami menikah. Kalau dihitung dari tahun produksi, mungki lebih dari
33 tahun. Panjang umur sekali jam itu.
Memang begitulah barang (produk). Seperti sudah
saya tulis di blog ini, bahwa barang
atau produk memiliki masa hidup (life
cycle) alias kedaluwarsa. Ada barang yang jika sudah rusak, ya, rusak. Tidak
bisa lagi diperbaiki (diservis).
Itu tadi pasalnya. Karena sudah sampai
limit masa hidupnya (life cycle) atau
sudah masuk kedaluwarsa. Atau tidak ada jalan untuk memperbaikinya karena suku
cadangnya (spare part) sudah susah
mencarinya karena tidak diproduksi lagi.

Komentar
Posting Komentar