Nama ini adalah nama kedua yang dilekatkan setelah sebelumnya bernama SMA Taruna Raden Intan Lampung (kalau tidak salah, cuma ingat 'taruna'-nya). Saya pikir nama Taruna akan jadi nama yang abadi karena bernapaskan kepahlawanan Radin Inten, bakal lama dipakainya sebagai brand teranyar, tapi rupanya saya keliru menganggapnya seperti itu.
Ketika lewat kapan waktu, mata melihat banner dan mulut membaca apa yang tertulis, kuping menyimak apa yang terucap. Tertera, tersebut, dan tersimaklah "SMA Bintang Plus - excellent and character" sebagai pengganti nama SMA Taruna Raden Intan Lampung. Bakal abadikah nama yang kedua ini? Wallahu 'alam.
![]() |
| SMA Bintang Plus |
Dahulu sekolah ini bernama SMA Budaya. Terletak di Jalan Pendidikan, Sumberejo, Kemiling. Alkisah, nasib SMA Budaya merana setelah ada program biling (bina lingkungan) bikinan wali kota Herman HN yang kelak membuat sekolah swasta se-kota Bandar Lampung kesulitan mendapat siswa/siswi baru, tak terkecuali SMA Budaya katut menggigil demam dan sekarat.
Setelah biling membuat kelimpungan sekolah swasta se-kota Bandar Lampung, ditambah lagi kebijakan zonasi yang memprioritaskan warga sekitar sekolah sebagai prioritas utama diterima di suatu sekolah negeri. Apadaya sekolah swasta tak bisa berbuat banyak, hanya bisa pasrah menunggu limpahan.
Adakah yang namanya limpahan itu? Tentu. Tidak semua calon peserta didik bisa diterima di suatu sekolah negeri dengan syarat dan ketentuan berlaku. Yang tidak masuk sekolah negeri itulah yang disebut limpahan. Mereka dengan semangat keterpaksaan, mesti legowo belajar di sekolah swasta pilihan hati.
Setidaknya, sedekat pengetahuan saya, SMA YP Unila yang grade A itu dan SMA Gadjah Mada, adalah salah dua sekolah swasta di Bandar Lampung yang banyak peminatnya. Apakah peserta didik baru yang masuk dua sekolah tersebut murni memilih untuk belajar di situ. Atau masuk situ karena limpahan? Dua-duanya.

Komentar
Posting Komentar