Saya mengirim igauan semacam pendapat atau saran yang saya beri judul "Insight Pagi" pada seorang kawan lamo uji wong pelembang, untuk ia baca sambil nyeruput kopi. Termasuk orang yang bukan menjadikan "bangun siang" atau "ninggi ari" uji wong pelembang lagi, sebagai sebuah budaya hidup.
WA saya pukul 6 seperempat tadi langsung ia sambar macam ikan kelaparan dilempar pancing. Sepertinya memang sedang nyeruput kopi kawan lamo ini. Tapi, bukan seperti bapak kito ngopi zaman orba, sambil baca koran. Sekarang zaman milenial dan Gen Z ini, orang ngopi sambil baca komen di fb, bukan koran.
![]() |
| sesekali mejeng di blog |
Buka-buka arsip puisi yang sudah terpublikasi di beberapa media digital, saya juga dapat insight bahwa, ternyata pada sebuah media digital, ada penyair yang puisinya kerap muncul. Sedangkan diriku, sejak dimuat sekali, menahan diri untuk kembali mengirim puisi ke meja redaksi media tersebut. Kangen pun menyeruak di hati saya.
Maka, dua menit lalu, 5 sendok puisi saya seduh dan menuangkannya ke cangkir redaktur sastra media digital yang pernah menghidangkan puisi saya itu. Dengan alasan kangen seperti yang saya katakan di atas, saya pun mengirim puisi lagi, harapan saya semoga puisi saya kembali muncul seperti halnya penyair lain yang kok bisa-bisanya berkali-kali.
Ada 10 gelas puisi saya hidangkan sepagi ini ke meja redaksi (cq. redaktur sastra) 2 media digital, masing-masing 5 gelas. Apakah gelas-gelas puisi yang saya hidangkan langsung diseruput redakturnya selagi masih panas kemebul atau mesti menunggu sampai agak sedikit hangat, saya cuma bisa menanti kabar. Atau sampai dingin tidak disentuh sama sekali. 😂

Komentar
Posting Komentar