Langsung ke konten utama

Pantulan Cermin

Bercerminlah untuk melihat sosok diri secara gamblang. Tapi, ada yang bisa dilihat tanpa menggunakan cermin sebagai medium meneropong. Apa itu? perhatikan siapa saja yang datang melayat saat seseorang wafat. Tentu juga termasuk seberapa banyak. Jika banyak yang datang melayat dan kiriman bunga papan ucapan turut berdukacita berderet-deret, bisa ditebak bahwa yang wafat adalah pejabat atau paling tidak mantan pejabat (yang tidak punya cela).

Seberapa banyak yang datang melayat dan kiriman bunga papan, itu adalah pantulan cermin seberapa bermakna seseorang yang wafat itu di mata publik (masyarakat kebanyakan). Atau dengan kata lain seberapa gaul seseorang tersebut di masa hidupnya dalam bermasyarakat sebagai pengamalan hablum min an-naas. Seberapa mesra hubungan baik dengan jiran tetangga, kawan, sanak saudara. Akan berlaku juga untuk sebaliknya, seberapa sedikit yang datang layat.

Tadi malam tahlilan hari/malam ketiga (nigahari) atas kepulangan Pak RT yang mangkat Sabtu siang pukul 13:05 WIB (01:05 PM). Betapa banyak yang datang. Bukan semata-mata karena beliau Ketua RT, melainkan ada share-share-an undangan tak resmi oleh parapihak di grup-grup whatsapp. Saya katakan tak resmi karena –menurut sahibul musibah– itu tanpa sepengetahuan mereka dan tanpa konfirmasi lebih dahulu. Semacam tugas di luar tupoksi. Di luar tugas dan wewenang.

Keluarga sahibul musibah tidak mempermasalahkan. Justru bersyukur karena semakin banyak yang datang bertakziah, semakin banyak yang meng-aamiin-kan doa yang dilangitkan ustaz pemandu doa. Karena –seperti sudah saya tulis di blog ini– entah melalui mulut siapa dan doa yang keberapa baru Allah azza wajalla akan mengijabahnya. Semakin banyak mulut yang meng-aamiin-kan, semakin banyak pula gema aamiin yang tersampai ke Arasy (Singgasana Allah azza wajalla).

Takziah nigahari di BKP Blok N/O

Kendati banyak tamu takziah yang datang memenuhi tenda, teras, dan ruang dalam rumah, Alhamdulillah tak ada yang sampai tidak kebagian sedekah jamuan dari tuan rumah. Begitu melihat tanda-tanda kekhawatiran atas membeludaknya tamu, sahibul musibah cepat mengantisipasi dengan memesan porsi nasi kotak ke rumah makan. Hal begitu sebuah kegaliban dilakukan bila ada kekhawatiran nasi kotak yang sudah disiapkan pada mulanya bakal tidak cukup, sehingga tidak malu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Jam Rusak Jangan Dibuang

Nah, benar belaka apa yang saya ujarkan dalam postingan blog kemarin, bahwa ada orang membiarkan jam dinding mati, terpacak bisu di tembok ruang tamu (dijadikan hiasan dinding). Padahal, tinggal ganti mesin bisa hidup kembali. Bapak pemilik “Omega Arloji” di Bambu Kuning Trade Center, mengemukakan hal itu. Sambil si Bapak dan putrinya mengganti mesin jam kami, si Bapak berkata, “Ada orang main buang jam yang udah mati, padahal masih bisa diganti mesinnya.” Berbagai merek jam tangan jualan "Omega Arloji" kios No.254 Bambu Kuning Trade Center. “Kemarin siang ada orang bawa tiga jam ke sini. Sebelumnya ada empat jam dibuangnya,” lanjut si Bapak menceritakan ketertegunan klien yang baru ngeh ternyata jam dinding mati masih bisa dipakai dengan cara mengganti mesinnya. Sesepele itu. Si Bapak juga terkagum-kagum pada merek jam dinding kami, NAGOYA. Katanya, ini sudah nggak diproduksi, tadinya banyak kami jual, sekarang tinggal satu itu seraya ia tunjukkan jam di tembok kio...

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...