Langsung ke konten utama

Apa pun, Tetap Ngopi

Betapa syahdunya cuaca, sepagi ini hujan dengan langkah pelan menapaki jalan yang dilaluinya. Tidak cepat jalannya (deras jatuhnya), tapi tak mengizinkan (menghalangi) saya untuk keluar mencari camilan teman ngopi. Apa daya.

Untung ada persediaan biskuit dan buah pir. Jadi ada persimpangan kebiasaan. Biasanya ngopi bersahabat gorengan, pagi ini dipertemankan dengan buah dan biskuit. Yang penting ngopinya, tak peduli apa yang dipersandingkan dengannya.

Sekadar ilustrasi | foto: Basajan.net |

Seperti tagline teh botol yang sudah ngetop sejak zaman saya SMA tahun ‘80an yang kala itu masih satu varian rasa, teh melati thok. Sekarang sudah ada rasa madu, anggur, dan jeruk. “Apa pun juga makanannya, minumnya teh botol COCOK.” 🤔

Frasa COCOK itu sekadar buat memplesetkan merek teh botol yang sudah amat legend tersebut. Saking legendarisnya teh botol COCOK itu, muncul kemudian merek teh botol lainnya. Buat apa tho? Tentu buat bermain di gelanggang persaingan.

Memang begitulah galibnya dunia bisnis. Jika ada suatu barang populer dan merajai pasaran karena berhasil mengambil hati konsumen, maka akan muncul barang serupa dengan merek lain untuk ikut-ikutan berjudi menarik simpati konsumen.

Konsumen pun jadi punya pilihan, baik merek maupun harga barang. Jika barang baru tersebut berhasil meyakinkan konsumen bahwa dirinya lebih bagus dari barang yang sudah legendaris, alamat pasarannya akan lancar, bisnisnya maju.

Kendati begitu, ada orang yang loyal sekali dengan barang lama. Tak peduli ada barang baru, mereka tak akan terpengaruh oleh promosi-promosi yang dilakukan barang baru tersebut, bagaimana pun persuasi yang ditebar mereka tak akan terhasut.

Ah, beranjak siang hujan pun reda. Kopi masih nikmat dicecap meski perlahan dingin. Seruput demi seruput tersesap meningkahi jari jemari saya bermain-main di atas tuts kibord laptop mengadon tulisan receh ini buat postingan blog hari ini. 😆


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Jam Rusak Jangan Dibuang

Nah, benar belaka apa yang saya ujarkan dalam postingan blog kemarin, bahwa ada orang membiarkan jam dinding mati, terpacak bisu di tembok ruang tamu (dijadikan hiasan dinding). Padahal, tinggal ganti mesin bisa hidup kembali. Bapak pemilik “Omega Arloji” di Bambu Kuning Trade Center, mengemukakan hal itu. Sambil si Bapak dan putrinya mengganti mesin jam kami, si Bapak berkata, “Ada orang main buang jam yang udah mati, padahal masih bisa diganti mesinnya.” Berbagai merek jam tangan jualan "Omega Arloji" kios No.254 Bambu Kuning Trade Center. “Kemarin siang ada orang bawa tiga jam ke sini. Sebelumnya ada empat jam dibuangnya,” lanjut si Bapak menceritakan ketertegunan klien yang baru ngeh ternyata jam dinding mati masih bisa dipakai dengan cara mengganti mesinnya. Sesepele itu. Si Bapak juga terkagum-kagum pada merek jam dinding kami, NAGOYA. Katanya, ini sudah nggak diproduksi, tadinya banyak kami jual, sekarang tinggal satu itu seraya ia tunjukkan jam di tembok kio...

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...