Langsung ke konten utama

Black Out

Tadinya agak ragu berangkat apa tidak, tahlilan nujuh hari almarhum Pak RT yang wafat Sabtu, 6 Mei 2026 – (lihat “Yang Pulang Tengah Hari”)– oleh sebab mati lampu tiba-tiba. Karena memang sudah niat hendak hadir tersebab kedekatan hubungan anak almarhum dengan istri saya yang bestian, gelap jalanan perumahan kami terabas.

Di TKP sudah banyak jemaah tahlilan yang hadir menempati kursi-kursi di bawah tenda. Saya mencari posisi duduk yang jauh dari asap/bau rokok, agak tengah-tengah belakang orang-orang yang bagian dari jemaah “hisapiyah” alias ahli hisap, bukan ahli hisab. Sementara istri saya diantar masuk ke dalam rumah sahibul musibah.

Sosok ustaz K.H. Gusnedi, S.Ag di kejauhan sedang menyampaikan tausiahnya. 

Saya sangat sensitif terhadap asap rokok. Dalam hal ini, saya mengarang puisi yang menarasikan ‘mengapa orang kok merokok di tempat tahlilan’ apakah tidak bisa menahan diri barang sebentar, nanti setelah pulang ke rumahnya baru merokok. Agak aneh memang saya. Pernah pulang tahlilan saya mesti mandi menghilangkan bau asap.

Duduk kurang lebih 20 menit menunggu jemaah yang baru pulang dari masjid berdatangan, lampu pun kembali menyala. Lega rasanya, horay hwaaa bergema dari ibu-ibu di dalam dan teras rumah mengekspresikan kegirangan. Pewara (pemandu acara) segera membuka kata sambutan dan menyampaikan susunan acara malam ini.

Tidak ada pembacaan Surah Yaa Siin, hanya hadarah dan tahlil. Selanjutnya tausiah dari ustaz K.H. Gusnedi, S.Ag dari Kaliawi, Tanjungkarang Pusat. Alhasil jemaah ger-geran dibuat ustaz yang sesekali menyelipkan ujaran bahasa Jawa Serang (jaseng) itu. Lucu amat ini ustaz. Walau tidak menyitir ayat/hadis, tapi ceramahnya berisi.

Menceritakan alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam barzakh, dan seterusnya seputar lahir, hidup, mati dan amal perbuatan manusia. Bagaimana tanda-tanda mati yang husnul khotimah dan su’ul khotimah. Bagaimana Malaikat Munkar dan Nakir mendatangi si mayit dalam kubur yang gelap untuk menanyakan man robbuka wa nabiuka.

Segar rasanya rohani ini digerujuk tausiah yang menyejukkan, bukan menakut-nakuti dengan surga dan neraka seperti sering disampaikan khatib jumatan. Kalau begini betah berlama-lama dibanding khutbah jumat setengah jam lebih di masjid tempat saya ‘safari jumat’ pada siang kemarin. Tausiah ustaz Gusnedi jadi pengimbang.

Nah, mati lampu yang sempat terjadi, rupanya bukan cuma melanda perumahan kami saja. Kabar pagi ini tadi menyebutkan terjadi black out se-Sumatra dari ujung utara hingga selatan (Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, dan Lampung). Penyebabnya jalur transmisi Rumai–Muaro Bungo 275 kV mengalami gangguan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Datang dan Pergi (2)

Saya mempergunakan lagi judul di atas dengan menambahkan angka 2 dalam tanda kurung, setelah mempergunakannya di postingan blog ini pada 10 Mei. Tentu, saya mesti merevisi judul di tanggal 10 Mei itu dengan menambahkan angka 1 dalam tanda kurung sebagai garis sambung keterkaitan judul itu. Teman lama saya yang masih bertungkus lumus di dunia media siber atau media daring, meminta puisi saya untuk dimuat di media yang ia kelola, “Lumayan buat nambah-nambah halaman,” alasannya. Media dengan kru lapangan terbatas, memang susah-susah gampang menangguk bahan berita buat isi halaman. Itulah kenapa banyak media daring di daerah berafiliasi dengan media besar di ibu kota Jakarta (Jakarta masih ibu kota, ya) setelah sengketa hukum IKN di MK ditolak oleh Majelis Hakim MK lewat putusan Nomor.71/PUU-XXIV/2026 yang menegaskan bahwa Daerah Khusus Jakarta (DKJ) tetap berstatus sebagai ibu kota negara. Dengan berafiliasi dengan media besar di Jakarta atau kota besar lainnya (Bandung, Semarang ata...