Langsung ke konten utama

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari.

Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari."

Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan.

Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumberejo 

Ada memang nama yang disematkan pada masjid diambilkan dari nama tokoh yang membangunnya. Misalnya, masjid raya Al-Bakrie di Lampung yang diambil dari nama Ahmad Bakrie, orang tua dari Aburizal Bakrie, mantan ketua KADIN dan menteri di era presiden Susilo Bambang Yudhoyono 2004–2014.

Itu sekadar satu contoh yang saya sodorkan sependek pengetahuan saya. Jika ditelusur lebih jauh, tentu akan ditemukan banyak nama masjid yang mengusung nama orang yang membangunnya. Kalau pun yang membangun adalah anak-anaknya seperti halnya masjid raya Al-Bakrie, dibangun oleh keluarga Ical.

Jemaah salat Zuhur di masjid Darul Hikmah 

Ical adalah nama panggilan Aburizal Bakrie. Anindya Novyan Bakrie, putra Ical saat ini juga menjadi ketua KADIN periode 2024–2029 mengikuti jejak ayahnya dahulu. Keluarga Ical ini mengelola holding company membawahi beberapa perusahaan seperti tambang, sawit, industri baja, media penyiaran (TV One), dll.

Balik lagi ke masjid Darul Hidayah. Masjid ini terpeta di G-maps Jl. Karet yang menghubungkan Jl. Teuku Cik Ditiro dengan Jl. Minak Sengaji, Perumnas Langkapura. Jl. Minak Sengaji sendiri terhubung ke SMPN 13 dan tembus ke Jl. Marga. Masjid Darul Hidayah baru saja selesai membagusi bangunan lantai dua, diprofil.

Bukan masjid yang besar dan megah, melainkan masjid di lingkungan penduduk kota dan cukup representatif untuk wadah salat lima waktu bagi warga sekitar. Dan, galibnya di hari kerja, jemaah salat Zuhur tadi kurang dari 30 orang. Yang menarik, pengurus menyediakan kain kafan sebagai cadangan sewaktu-waktu butuh.

Saya cari catatan keuangan masjid, sayangnya tidak menemukannya. Barangkali saldo kasnya juga sudah minimalis karena dipergunakan atau dialokasikan untuk membangun dan mempercantik di bagian lantai dua masjid. Saya merasa nyaman berjemaah di sini, suhu udara menelusup sejuk dari AC di dinding masjid.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...