Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

Curhatlah ke Tetangga

Tetangga yang opname di RSUD dr. A. Dadi Tjokrodipo, tadi magrib saya lihat sudah salat berjemaah di masjid, tapi tidak lagi sebagaimana biasa ia duduk berzikir dan pulang paling belakangan setelah semua jemaah pulang. Selesai doa dipandu imam sepertinya ia bergegas pulang. Barangkali kondisi badannya belumlah fit betul pasca-perawatan di RS. Jadi tidak sempat mengobrol dan menanyakan bagaimana kondisi kesehatannya serta sakit apa gerangan kemarin. Tapi, saat saya pulang beriringan dengan tetangga depannya. Saya iseng bertanya kepadanya tentang penyakit yang diidap tetangganya itu. Apa jawaban (teman jalan subuh saya itu), “Entah, tidak nanya.” Jawaban simpel, tapi menyimpan makna. Makna yang saya maksud, peduli dan empati antartetangga. Di kota, harga sebuah perhatian begitu mahal. Orang mudah terinfeksi virus ketidakpedulian. Tak acuh pada tetangga yang seyogianya butuh perhatian. Karena susah mencari dan mendapatkan simpati, orang memendam perasaan sakit, enggan curhat takut...

Antologi Lagi

Kemarin ada dua pengumuman hasil kurasi puisi. Satu , Festival Sastra Yogyakarta (FSY). Dua , puisi untuk merayakan HUT ke-15 Sastra Bulan Purnama. Yang pertama FSY, menghasilkan 20 besar puisi terpilih, dibagi menjadi kategori juara 1, juara 2, dan juara 3 serta dua puisi favorit 1 dan favorit 2. Tercatat 4.136 puisi masuk, dikurasi tim kuratorial (Ramayda Akmal, Fairuzul Mumtaz, Paksi Raras Alit). Di samping 5 puisi kategori juara dan favorit di atas, ada 15 lainnya dinilai memiliki keunggulan sehingga menggenapi 20 besar Sayembara Puisi Nasional. Yang kedua, dari 214 puisi yang masuk meja tim kuratorial, setelah dibaca dan dinilai dari segi tema, yaitu "kota kita" dan sebagainya, dicari puisi yang memenuhi syarat, maka dinyatakan 158 puisi lolos kurasi akan dibukukan dalam antologi 15 tahun SBP. Dari 158 penyair lolos terdapat beberapa penulis generasi muda dari pulau garam Madura. Beberapa tahun terakhir, khususnya dari kabupaten Sumenep muncul penyair muda sebagai peneru...

Diagnosis yang Lamban

Kemarin bakda magrib Bapak RT mengajak besuk tetangga yang opname di RSUD A. Dadi Tjokrodipo, kumpul dan berangkat dua mobil bakda isya. Sampai RS naik lantai 3, salaman dengan tetangga itu, telapak tangan dan lengannya terasa hangat, menandakan suhu badannya belum normal. Waktu kami besuk ia baru saja pindah dari IGD ke ruang perawatan. Rombongan ibu-ibu RT besuk waktu masih di IGD itu, istri tidak ikut karena tak dikasih info oleh mereka. Istri pengin nengok, tadi siang kami berdua balik lagi ke RS. Salaman terasa hangat, lho suhu tubuhnya kok belum normal, ya. RS Tjokrodipa kota Bandar Lampung  Pengalaman saya yang sudah-sudah, 3 hari setelah minum obat penurun panas sebagai pertolongan pertama, tapi panas badan tidak turun juga. Atau turun naik, saya langsung ke dokter praktik di klinik. Kalau kata dokter periksa darah, berarti diagnosis awal dokter sudah menduga antara DBD atau tipes. Pernah saya kena dua-duanya. Ya DBD, ya tipes. Hal seperti itu agak berat menanggulanginya,...

Dag Dig Dug

Dahulu, saat istri masih aktif ngajar, di sela menunggu dia berkegiatan MGMP, saya pergi ke masjid salat Dhuha. Suatu waktu, dia MGMP di SMP 1, saya niatkan Dhuha di masjid Ahmad Sarbini Jl. HOS Cokroaminoto, sayangnya teralis pintu masuknya digembok, saya beralih ke masjid Taufiqurrahman Jl. K.H. Mas Mansyur. Tadi, ‘safari jumat’ saya niatkan ke masjid Ahmad Sarbini lagi, dahulu pernah jumatan di situ. Begitu masuk halaman parkir kok sepi, tidak ada tanda-tanda bakal diselenggarakan salat jumatan. Saya langsung keluar dan berubah haluan hendak ke masjid Al-Bakrie saja, ternyata tidak jauh dari masjid Ahmad Sarbini, rupanya ada masjid lain. Nama masjid Robeatul Aziz di pagarnya  Terkaget saya melihat motor nggak lagi ada di tempat parkirnya. Wah, berabe kalau hilang. Masa hilang sih, padahal sudah ditambahkan kunci roda. Rupanya dah dipindahkan secara dipaksakan oleh jukir. Oalah, apakah di situ bukan tempat parkir? Mengapa tidak ada petunjuk pengarah agar parkir di tempat yang...

81 Penyair Bicara

Buku ini tiba kemarin saat saya bobo siang. Proses penerbitannya terbilang cepat dari mulai pengumpulan naskah, layout , cetak, dan didistribusikan kepada masing-masing penulis puisi tema “81 Penyair Bicara Tentang Indonesia  –  Merdeka Katamu” sebagai persembahan penyair untuk memperingati HUT ke-81 kemerdekaan RI. Mengapa kok bisa cepat? Karena tidak melewati proses kurasi dan tidak menunggu terbitnya ISBN (International Standard Book Number) dari Perpustakaan Nasional RI. Sebagai identitas penerbitan, buku ini menggunakan barcode QRCBN (Quick Response Code for Book Number) sebagai alternatif sulitnya mendapatkan ISBN. Buku  “ 81 Penyair Bicara Tentang Indonesia ”  Program TISI untuk HUT ke-81 RI. Sesuai judul buku “81 Penyair Bicara Tentang Indonesia  –  Merdeka Katamu”, maka penyair yang terhimpun di dalamnya sebanyak 81 orang. Sedangkan jumlah puisi ada 137. Namun, di samping 81 penyair sebagai pemeta judul buku, ada 4 penyair tamu dengan masing-mas...

Bikin Was-Was Aja

Entah apa maksud tetangga yang pasang muka kusut dan berkata beras habis tak ada yang jual. Kalau saja sebelumnya keponakan tidak bercerita bahwa di Chamart Jl. Ki. Maja Wayhalim beras habis, tinggal yang kemasan 2 kg, tentu saya menganggap tetangga itu cuma guyon. Tapi, karena keponakan sudah lebih dahulu mengatakan apa yang ia lihat sendiri, omongan tetangga beras habis itu sempat bikin saya was-was. Lalu, dalam postingan kemarin saya berani mendaku hal itu dipicu kekhawatiran orang terhadap kemungkinan aksi massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di depan gedung parlemen hari ini bakal berujung chaos . Nyatanya, ketika Rabu malam saya ke toko grosir langganan, masih banyak beras teronggok. Satu karung kemasan 5 kg saya gamit pulang. Rasanya pengin saya mendatangi rumah tetangga yang memasang muka kusut Rabu pagi lantaran beras habis, di mana-mana kosong. Andai ternyata di toko grosir langganan itu memang benar beras kosong, alamat hari ini tadi kami tidak masak karena persedi...

Gak Ada Beras, Lalu...

Tadi malam keponakan ke Chamart Jl. Ki. Maja, Wayhalim. Katanya, beras habis begitu juga dengan mie instan pada habis diborong oleh orang-orang. Siapa mereka? Orang yang terhasut isu. Memang akan ada rencana aksi di depan gedung parlemen Senayan besok siang. Apakah aksi massa yang akan digelar bes o k itu berpotensi chaos seperti tahun 1998? Wallahu 'alam. Aparat keamanan (polisi dan TNI) tentu siap siaga menghadapi sebesar apa pun gelombang massa dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang akan berunjuk rasa. Apakah aksi massa yang (akan) digelar di Jakarta mesti diikuti aksi kalap warga luar Jakarta dengan memborong sembako? Ini yang tidak saya mengerti, kok bisa. Seorang bapak (tetangga) tadi pagi terlihat kusut mukanya. Kata saya, membecandainya, "Jika masih ngantuk, tidur lagi sana." Apa jawaban yang ia lontarkan? "Bagaimana bisa tidur, beras nggak ada, hilang semua," ketusnya. "Di sana (saya sebut nama grosir langganan) nggak ada?" tan...

Kisah Mbak Seruni

Ada satu even menulis puisi untuk acara “Kemah Sastra” yang diadakan Magister Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM), saya tidak ambil bagian. Acara “Kemah Sastra telah berlangsung sukses pada 14–15 Agustus 2026, tetapi ada cerita tercecer di jalan menuju lokasi kemah. Dialami/diceritakan Mbak Seruni. Ini perihal hp eror, dialami seorang peserta yang menyebut identitasnya sebagai Seruni. Dia amat gembira ketika mendapat balasan melalui  e - mail bahwa puisinya lolos kurasi dan dia diundang untuk hadir di “Kemah Sastra” yang bertempat di Kledokan, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman. Si Mbak Seruni jauh-jauh dari Solo, tapi sampai Jogja hp -nya eror. Apa daya si mbak Seruni tak bisa membuka google maps . Karena itu, dia tersesat waktunya habis di jalan, akhirnya dia putuskan pulang balik ke Solo memanggul rasa kesal di pundaknya. Untung tak dapat dia raih. Saya sering memperhatikan kaum wanita biasa membawa hp 2 unit di genggaman. Semula saya berpikiran buat apalah sampai punya 2 ...

Kembang Telur

Sampai lagi kita pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kendati nama saya tercatat sebagai anggota PHBI kepengurusan takmir masjid, saya (dan anggota lainnya) tidak dibebani tugas apa pun karena PHBI hanya pemrakarsa, segala urusan dipikul oleh RT masing-masing. Membuat kembang telur, misalnya, beres di tangan ibu-ibu setiap RT. Lain halnya dengan bagian perlengkapan atau bagian pembangunan (pengembangan) masjid, mereka lebih kelihatan tugas-pokok-fungsi (tupoksi)-nya. Seperti pengadaan material, mencari tukang, dan mengawasi pekerjaan. Dari pengalaman yang sudah-sudah, dari tahun ke tahun, acara terselenggara berkat kerja kolektif semua bagian bersama ibu-ibu majlis taklim. Di dalam kepengurusan takmir masjid di mana pun, PHBI adalah motor penggerak hidupnya siar agama melalui kegiatan hari besar Islam yang diperingati. Ya, khusus hari besar Islam. Untuk kegiatan ibadah harian, bagian peribadatan yang mengampu atau memegang peranan dibantu oleh marbot jika ada. Begitulah tata kelol...

Ramu-Ramu Warteg (part 2)

Buku ini dikirim dengan ongkir sistem COD. Tiba di rumah saat saya sedang di Cirebon, sebelum berangkat saya titipkan uang pada tetangga untuk bayar ongkir agar paket tidak dikembalikan bila kurir beranggapan paket gak diterima di tujuan. Ramu-Ramu Warteg narasikan puisi tentang menu warteg, mengulik segala hal ihwal yang berkenaan dengan warung khas dua pintu itu. Warteg, dari Tegal keluar batas wilayah melompati sekat kelas sosial orang yang butuh sekadar kenyang, tak lebih. Kopi, buku Ramu-Ramu Warteg, dan roti jadoel Dari pesisir pantura (Tegal), warteg meluas melintas ke ibu kota Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Tahun 2026 saya perhatikan di sudut-sudut kota Bandar Lampung ada beberapa warteg berani mengibarkan panji warung kuliner khas  baharian itu. Berani betul warteg-warteg itu, padahal, lidah ulun Lampung beken dengan selera pedas. Sambal seruit paduan cabe rawit, rampai, toping  dilan Menggala, kuliner paling favorit untuk dikunjungi kapan saja, ali...

Jalan Berhadiah

Bukan tentang hadiahnya. Jalan sehat dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 kemerdekaan RI yang diinisiasi Lurah Kemiling Permai, Parlindungan Pane, S.Sos. adalah tentang sebuah medium mengeratkan hubungan antara stakeholder dalam hal ini ASN kelurahan dengan warga masyarakat di lingkungan kelurahan itu. Perintilan hadiah yang disiapkan dari yang paling sederhana berupa sapu hingga yang paling worth it berupa sepeda listrik, memantik semangat warga melakoni jalan sehat dan betah menunggu kupon diundi. Namanya juga di tingkat kelurahan, hadiah yang disiapkan entah siapa sponsor pemikulnya. Peserta jalan sehat menyimak instruksi Bapak Lurah Parlindungan Pane, S.Sos  Kalau wali kota inisiatornya, bisa mengerahkan unit pelaksana tugas di dinas yang ada di Pemkot sebagai pencari sponsor. Karena itu, tak sukar bagi wali kota untuk bagi-bagi hadiah barang elektronik, bahkan umrah bagi peserta jalan sehat. Hadiah umrah itu yang paling ditunggu dan diharapkan semua peserta. Bag...

Baterai Baru

Jadi juga ganti baterai. Pukul 09:36 AM saya tiba di service center Xiaomi di seberang Moka. Disuruh menunggu sekira dua jam. Saya ngadem di Moka. Masih sepi, konter hp baru satu dua yang buka, di lantai 2 dan 3 ada beberapa gerai pakaian. Peminat hp dihadapkan pada banyak tempat. Moka ada Simpur Center tempat belanja hp yang sejuk dan nyaman. Selain itu, konter hp bertebaran di banyak ruko. Karena itu, tidak mesti ke kota, ruko di sudut-sudut perumahan pun menjual hp baru dan second . Kebetulan saat hendak masuk masjid disodori kupon untuk ditukarkan nasi Jumat Berkah  Dengan begitu, tak dimungkiri dan tak perlu ditanya bila konter hp di Moka dan Simpur Center semakin lama semakin sepi, bahkan bisa jadi akan tutup. Lain halnya pusat penjualan  hp  ITC Roxy Mas, Jakarta Pusat yang stabil dan tetap ramai pengunjungnya. Berhubung Moka masih sepi, saya cari Pukul 10:20 AM saya balik ke service center , sekira setengah jam, hp yang diganti baterai selesai, saya cabu...

Inden Baterai

Kemarin siang siomay yang baterainya gak mau dicas saya antar ke servis center depan Moka, kudu inden pula. Satu sampai tujuh hari ke depan masa tunggu yang dijanjikan mbak Niken AdeS H yang melayani saya. Hp saya bawa pulang karena baterai sedang gak ready . Untungnya WA Web di laptop gak saya log out sehingga saya tetap bisa baca dan memberi komen. Masa tunggu satu minggu ke depan bisa dipotong kompas dengan cara beli hp baru, tapi alternatif ganti baterai ini ditempuh dahulu buat memastikan apa sih kendala hp ini kok mati. “Minta lembiru,” kata istri menanggapi hp saya eror ini. “Lembiru” artinya lempar beli baru. Memang begitulah jalan pintas yang gampang ditempuh bagi orang yang mudah menyerah dengan apa yang disebut ketidaksabaran. Jalan pintas yang akan menyunat saldo tabungan dengan cepat. Anak juga menyarankan jika hendak ganti hp , jangan lagi merk siomay. Ia pun Googling dan menunjukkan banyak pilihan hp yang harganya pun lumayan miring. Memang, sih, ...

Batu Uji hp Mati

Untuk kali kedua hp siomay ini kolaps. Pertama , terjadi di Jambi saat Festival Puisi Etnik Nusantara, hp nge- lag karena memory kepenuhan ulah kiriman gambar dan video para peserta festival puisi etnik dari daerah se-Nusantara dan jiran tetangga rumpun Melayu (Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam). Yang kedua , hari Sabtu subuh saat saya cas di Stasiun Gambir, tak mau ngecas lagi. Sesampai hotel di Cirebon pun tak mau dicas. Wah berabe, baterainya kudu ganti ini. Gejala bakal mati baterai itu sudah tersadap sebenarnya. Dicas lemot, tak cepat seperti sebelumnya, saya abaikan saja. Nah, kena batunya deh. Apa daya saya terpaksa absen dulu memposting di blog , padahal sudah beberapa tahun ini rutin setiap hari ada saja cerita atau tulisan random yang saya posting. Apa lagi ini dalam perjalanan Lampung–Cirebon–Depok dan balik ke Lampung banyak ceritanya. Batu sandung yang nyaris fatal hp mati ketika driver travel berkali-kali menelepon tak bisa terhubung. Menyadari waktu pe...

Ibadah Terpanjang

... ... ... ... ... Tepat pukul 16:20 sah ... ... ... ...

Journey

With Cakrabuana train , journey to Cirebon start 10:50 AM. Di langit Jakarta tepatnya di atas silang Monas berseliweran pesawat tempur F-15 sedang latihan intensif untuk upacara detik-detik peringatan HUT ke-81 kemerdekaan RI, 17 Agustus 2026, Senin lusa. Deru suaranya menggemuruh. Jalanan sedikit macet karena hal tersebut di atas. Karena kami dari Lampung sudah sampai waktu subuh, tidak ada masalah. Anak mantu dari Depok naik commuter line turun di stasiun Gondangdia sedangkan adeknya dari Pasar Minggu juga naik moda transportasi yang sama, turun Gondangdia. Monas menjulang dipeluk polusi udara  Ndilalah di stasiun ketemu tiga keponakan sai umpu dengan Ibu mereka karena Kakek mereka dan Ayah saya kakak beradik. Dengan tujuan yang sama buat menghadiri pernikahan keponakan (anak Abang) saya yang bungsu di Hotel Metland Cirebon. Mereka satu gerbong dengan anak-anak. Kls. ekonomi gerbong 1. Sementara saya berdua istri karena pesan tiket udah belakangan jadinya pisah gerbong ...

Wong Aneh

Ceritanya naik taksi online menuju stasiun Tanjungkarang. Sopirnya tetangga di RT sebelah, biasa jemaah salat lima waktu di masjid. Artinya kenal, sepanjang perjalanan, akan tetapi, sopir ini aksi diam. Tak bertanya hendak ke mana. Ya, sudah, saya diam saja juga. Istri apa lagi karena memang tidak begitu paham dengannya. Saya kasih tahu perihal siapa wong kuwi , istri cuma manggut-manggut. Taruhlah anggapan ia orangnya pendiam, kurang suka basa-basi, tapi tidak sedang sakit gigi. Pernah ada cerita tentang ia ini, saya dengar Bapak RT mereka sendiri yang cerita. Kata Pak RT mereka, ia ini hendak nyalon jadi ketua RT di lingkungan RT mereka. Tapi, oleh sesepuh di sana diwanti-wanti, "Lebih baik tidak usahlah, jadi ketua RT itu berat." Sesepuh ini pernah jadi ketua RT, ia dilengserkan warga. Ia ASN, akhirnya naik jadi lurah. Tapi, jadi lurah pun sepertinya percuma ketika ia tidak bisa melobi Dinas PUPR Pemkot BDL untuk mengaspal jalan di lingkungan tempat tinggalnya sendiri. A...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Kesan Modern itu Terlihat

Lumayan lama coy tidak ke pasar Koga. Tadi mampir karena hendak ngelèm sepatu yang terlepas. Mungkin karena sudah siang, saat jelang zuhur, suasana pasar terkesan sepi. Oh, iya, namanya bukan lagi Pasar Koga seperi dahulunya, melainkan Pasar Modern Raden Intan. Keren, Bro. Perubahan nama itu seiring peningkatan statuta Korem Garuda Hitam menjadi Kodam XXI Raden Intan. Pasar Koga dikelola atau aset milik Korem, dengan sendirinya sekarang dikelola Kodam XXI Raden Intan. Nama baru itu, saya lihat dipasang pada bagian depan menggantikan nama lama. Nah, bukan hanya memajang nama baru itu saja, melainkan menambahkan ornamental di bagian depan bangunan pasar sehingga kesan “modern” itu terlihat nyata. Bukan hanya pasar ini saja yang berganti nama. Hotel Ria (dulu) yang jadi Wisma Gatam  pun berubah menjadi Wisma Raden Intan. Sebenarnya di Kepayang ada tukang sol sepatu, tapi sewaktu lewat hendak ke p o ol Damri terlewat tanpa sadar. Sehabis ke pool Damri bablas ke BK, istri hendak b...

Buku

Saya masih menunggu datangnya buku "Ramu-Ramu Warteg" dari Tegal. Antologi ini belum merupakan kloter terakhir, masih ada beberapa buku sedang proses. "81 Penyair Bicara Tentang Indonesia -- Merdeka Katamu" karena peminatnya mbeludak sementara dibatasi hanya 81 penyair sesuai dengan HUT ke-81 RI, maka dibuat menjadi dua jilid. Tapi, jilid 2 sepertinya agak lambat terpenuhi kuotanya. Deadline 15 Agustus, baru separuh yang mendaftar. "MOZAIK", "Dapur Sastra Jakarta (DSJ)", "Rohmantik" dari Sastra Rumah Bamboe masih proses juga, tidak bisa diprediksi kapan selesai. Rangkaian yang mesti dilalui sebuah buku antologi begitu panjang mulai dari pengumpulan naskah puisi, dikurasi oleh tim kurator, layout , pengajuan ISBN, pencetakan dan penjilidan serta packaging buku untuk selanjutnya didistribusikan ke penulis. Cukup melelahkan bagi yang mengolah maupun yang menunggu bukunya. Ilustrasi | credit foto: ISBN Service  Baik buku antologi bersama...

FSY 2026

Maju mundur saya untuk ikutan atau tidak FSY tahun 2026. Tiga tahun ikutan belum mujur lolos kurasi. Even tahunan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta ini benar-benar buat nguji adrenalin dalam menciptakan puisi bertema. Tahun ini FSY mengusung tema besarnya “LAKU.” Di luar tema besar  “LAKU”  itu, bebas saja hendak mengirim puisi bertema apa saja yang penting bebas SARA dan pornografi. Karya sastra emang sering menjamah ranah pornografi sebagai objek penulisan. Apakah tokohnya yang digambarkan sensual atau tempatnya berada di zona abu-abu. flyer FSY di Instagram  Karya sastra yang mengeksplor dunia hitam atau zona abu-abu  tentu tak terlepas dari narasi yang menyentuh hal yang sensitif, apakah bentuk tubuh secara transparan atau gender tokoh dalam cerita. Minimal menggambarkan pakaian yang seksi dan dibuat sebisanya mengundang syahwat pembaca. Dalam dunia perbukuan (karya sastra), penerbit mayor memiliki aturan ketat masalah pornografi. Tapi, novel IQ84 Haruki Mur...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Ilustrasi | gambar panjat pinang dokumen facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tiku...

Bantuan itu Cair

Kemarin, gais, saya 'safari jumat' di masjid Al-Muhajirin Springhill. Pilih yang dekat-dekat saja. Karena selalu ada Jumat Berbagi di masjid ini, bocil - bocil   udah hafal dan selalu ramai yang datang. Karena pengin coba-coba ambil rute lain selain yang biasa atau pernah saya lewati, saya tersasar ke jalan buntu. Rupanya tidak semua jalan terhubung ujung-ujungnya. Ada jalan buntu juga. Bikin orang terjebak. Masjid Al-Muhajirin Springhill menunggu kedatangan jamaah salat jumatan  Putar balik  lah saya kembali ke arah gerbang masuk baru menyusuri jalan yang biasa atau pernah saya lewati, lebih cepat memang sampai ke masjid Al-Muhajirin di pojokan kompleks perumahan elit ini. Tidak mudah masuk perumahan cluster ini. Mesti lewat pos sekuriti, ditanya dan kendara diperiksa. Karena saya berpakaian  dress code untuk jumatan, langsung dipersilakan masuk dan dikasih senyum. Atau dress code ojek online yang mengantar jemput penumpang, gofood atau kurir paket juga dis...

Seputar BPJS

Sebelum berubah nama jadi BPJS era presiden SBY kemudian JKN KIS era presiden Jokowi, dahulu sebutannya Askes (asuransi kesehatan) yang diperuntukkan PNS di era pemerintahan Orde Baru. Begitu besar manfaat Askes bagi masyarakat dalam memperoleh pengobatan gratis di rumah sakit. Kami sekeluarga karena istri PNS, memegang kartu Askes masing-masing atas nama istri sebagai yang menanggung (penanggung) dan suami serta anak-anak sebagai tertanggung. Saya dan anak sulung amat terbantu oleh fasilitas Askes tersebut. Istri dan anak bungsu justru tak pernah mempergunakannya. Kartu Indonesia Sehat | Kompas Money  Anak sulung kena DBD, waktu itu tahun 2002, istri baru saja pindah tugas dari Pesisir Utara (Lampung Barat, saat belum ada pemekaran) sementara Askes masih terdaftar di unit kerja lama, Alhamdulillah bisa diterima di RSUD Abdul Moeloek. Satu poin enaknya Orde Baru. " Penak jamanku tho !" kata dagelan. Poin enaknya tidak begitu ribet dalam segala urusan. Saya menikmati Askes u...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Buku Antologi PPN XIV

Masih tentang buku, dapat WA dari kawan di Banyuwangi. Ia memberi tahu bahwa buku antologi PPN XIV Aceh sedang proses pencetakan. Ia menanyakan buku itu pada salah seorang penyair yang mungkin hadir dan mengikui kegiatan PPN XIV di Aceh tempo hari. Kabar baik itu disampaikannya kepada saya pukul 05:41 PM pagi tadi. “Sungguh kabar baik itu,” kata saya membalas WA darinya. Semakin terang deh kepastian akan adanya buku antologi puisi PPN XIV Aceh terutama bagi penyair yang nggak hadir ke Aceh tempo hari. Wah, jadi bungah dibuatnya. Tidak ada saluran informasi tentang kelanjutan hasil kurasi puisi untuk PPN XIV Aceh. Tidak ada grup WA yang meringkus nama kami ke dalamnya sehinggga mudah mengetahui apa dan begimana perhelatan PPN XIV Aceh di empat kabupaten dan kota yang dihadiri 200-an penyair dari 14 negara. Sebenarnya ada grup khusus bagi yang hadir ke Aceh. Yang tidak hadir dan masuk gabung ke grup WA tersebut, pada akhirnya dikeluarkan. Terang saja buntu akal dibuatnya. Seteru...

Dari Buku ke Buku

Setelah “Kado yang Terbungkus dalam Rumah Kata” dan “MBGendam” tiba di rumah, berikutnya buku yang akan tiba “Ramu-Ramu Warteg” masih dalam perjalanan dari Tegal ke penjuru kota-kota alamat para kontributor puisi yang bertema warteg ditaja Dewan Kesenian Kabupaten Tegal (DKKT). Setelah "Ramu-Ramu Warteg" ini, konon untuk selanjutnya DKKT menetapkan akan mengadakan even sastra (antologi puisi) tiap dua tahun sekali. Berarti tahun 2028 baru akan ada lagi. Ini DKKT yang “Kabupaten Tegal” lho, ya. DKKT yang “Kota Tegal” tentu lain lagi kebijakan atau programnya. Setelah “Ramu-Ramu Warteg” menunggu empat buku sedang proses. Yaitu, MOZAIK, 81 Penyair Bicara Indonesia - Merdeka Katamu, DSJ (Dapur Sastra Jakarta), dan Rohmantik (Sastra Roemah Bambu). Dari buku ke buku, itulah hasil membaca dan menulis merawat literasi agar meninggi. Predikat literasi rendah di tengah pemangkasan dana pendidikan dialihkan ke MBG, kita lawan dengan puisi, lahirlah "MBGendam" sebagai alter...

Belum Merdeka

Akhirnya nongol juga si penjual bambu tiang bendera keliling perumahan. Sesapuan mata saya lihat, ikatan bambu yang digendongnya masih tergolong muda, niat ingin membeli saya urungkan. Pulang salat subuh tadi, Pak RT berseloroh sambil menyebut nama tiga tetangga yang belum pasang bendera. "Belum merdeka," kata Pak RT. "Berarti masih terjajah dong ," timpalku. Kami pun tertawa. Pas pagi, satu nama yang disebut Pak RT, membeli bambu dari penjual dan mengibarkan bendera di depan rumahnya. Dua nama lain bertahan "belum merdeka" karena tak ikut-ikutan pasang bendera. Padahal, tak ada uzur yang membuat mereka tak bisa pasang bendera. Bambu tiang bendera yang dipakai tahun kemarin masih kokoh, tidak lapuk dimakan bubuk dan patah. Tidak bisa dijelaskan apa alasan. Political will (kemauan politik) untuk bersama warga lainnya menyemarakkan jalan depan rumah dengan bendera dan umbul-umbul tidak tumbuh subur di ladang kesadaran diri mereka. Mungkinkah begitu? Sudah ...

Mena Cutik

Sektor Kemiling. Begitulah menandai tempat tinggal kami (saya dan Udo Z Karzi) di maps google . Maka, jikalau ada suatu buku antologi puisi mengumpulkan nama kami berdua, si Abang kurir ekspedisi akan mengantar paket pada waktu yang berdekatan. Entah siapa yang didatangi dahuluan. Paket buku antologi puisi menolak korupsi (PMK) MBGendam yang kami tunggu telah kami terima siang ini. Kebetulan teras Udo Z Karzi yang lebih dahulu didatangi si Abang kurir, tadi pukul 12:41 kemudian baru ke teras rumah kami pukul 13:31. Buku antologi PMK MBGendam  Kurang 10 menit untuk jarak 1 jam selisih waktu yang ditunjukkan angka di atas. Waktu Udo Z Karzi woro-woro menyampaikan di grup WhatsApp bahwa buku sudah ia terima, saya kasih komentar, "Mena niku" dibalasnya "Mena cutik." Cutik -nya itu, satu jam-an. Ya, selisih waktu yang hampir 1 jam itu memang masih terbilang "cutik" (sedikit, bhs. Lampung). Kemiling kan luas dan seperti saya ceritakan di tulisan berjudul "J...

Bendera sang Pelopor

Biasanya jelang datangnya bulan Agustus gini, penjual tiang bendera keliling di perumahan BKP sejak pertengahan Juli menjajakan bambu buat mengibarkan bendera dan umbul-umbul. Tapi, agak aneh, semakin ciut ujung bulan dan masuk Agustus hari ini, tak ada penjual bambu keliling perumahan. Beruntunglah bambu buat memasang bendera dan umbul-umbul dari tiga tahunan silam masih dalam kondisi bagus. Fungsi ganda yang disandang bambu, selain buat tiang bendera saat Agustusan, ialah buat menggantung jemuran. Jadi, masihlah bisa dijemur bersama bendera dan umbul-umbul mulai hari ini. Bendera sang Pelopor  Era Jokowi jadi presiden (2014 –2024) , bambu tiang beserta bendera dijemur sebulan full  selama bulan Agustus, sesekali kena hujan  “ bulan Agustus ”  ada dua kemungkinan. Bendera niscaya cepat pudar. Bambu tiang yang saat dibeli sudah tua, bisa jadi akan lebih kokoh karena dijemur, semakin kering. Untuk bambu yang saat dibeli masih muda, biasanya akan dimakan bubuk dan memb...