Tetangga yang opname di RSUD dr. A. Dadi Tjokrodipo, tadi magrib saya lihat sudah salat berjemaah di masjid, tapi tidak lagi sebagaimana biasa ia duduk berzikir dan pulang paling belakangan setelah semua jemaah pulang. Selesai doa dipandu imam sepertinya ia bergegas pulang. Barangkali kondisi badannya belumlah fit betul pasca-perawatan di RS. Jadi tidak sempat mengobrol dan menanyakan bagaimana kondisi kesehatannya serta sakit apa gerangan kemarin. Tapi, saat saya pulang beriringan dengan tetangga depannya. Saya iseng bertanya kepadanya tentang penyakit yang diidap tetangganya itu. Apa jawaban (teman jalan subuh saya itu), “Entah, tidak nanya.” Jawaban simpel, tapi menyimpan makna. Makna yang saya maksud, peduli dan empati antartetangga. Di kota, harga sebuah perhatian begitu mahal. Orang mudah terinfeksi virus ketidakpedulian. Tak acuh pada tetangga yang seyogianya butuh perhatian. Karena susah mencari dan mendapatkan simpati, orang memendam perasaan sakit, enggan curhat takut...