Langsung ke konten utama

Petik Pahala Kebaikan

Ada dua penyintas penyakit dalam yang kami besuk pagi tadi. Satu ibu dan satunya lagi bapak. Yang ibu, habis operasi breast tumor sementara si bapak juga operasi batu ginjal. Kedua-duanya tampak sehat, hanya saja si bapak terlihat kurusan.

Kedua penyintas di atas adalah anggota grup bapak/ibu pensiunan guru yang membentuk klub arisan reuni. Saya jadi semacam penggembira, diminta menemani suami salah satu ibu-ibu pensiunan yang beberapa waktu lalu saya ikut mereka reuniun.

Karena sudah lama tidak reunian lagi, tidak ada yang mau ambil giliran jadi semacam macet di jalan, maka tadi salah satu ibu berinisiatif mengambil giliran. Kemudian untuk selanjutnya akan dikocok nomor supaya ada kepastian giliran siapa.

Kami besuk kedua penyintas di rumah masing-masing. Si bapak kebetulan tidak jauh dari rumah, dibedakan Blok. Kami Blok P, ia Blok O. Si bapak ini setelah pensiun jadi imam salat 5 waktu masjid Blok O dan imam Subuh masjid Al-Anshor.

Pasca-operasi ini, katanya ia masih belum kuat ke masjid. Salat di rumah pun duduk di kursi. Drastis sekali perubahan yang terjadi pada seorang manusia. Yang tadinya muda, berubah jadi tua. Tadinya gemuk, tiba-tiba kurus entah sebab apa.

Tadinya kuat berubah jadi lemah. Pada mulanya sehat walafiat eh kok jadi sakit-sakitan.   Antara rumah dan rumah sakit jadi trayek berkala sebuah perjalanan. Masuk–keluar, masuk–keluar rumah sakit jadi rutinitas yang tak terhindarkan.

Sampai akhirnya berpulang ke Rahmatullah seperti Bapak RT yang tanggal 6 Mei kami besuk di RS Bintang Amin, tanggal 16 Mei wafat di RS Urip Sumoharjo. Dalam rentang 10 hari dari kami ngobrol ia bercanda, ia meninggalkan kesan bagiku.

Besuk di rumah si ibu itu sekalian saya ‘safari jumat’ di masjid Baiturrahim dekat rumahnya. Pernah suatu pagi saya hendak ke pasar tempel dekat masjid itu, berpapasan dengan si ibu, saya ragu hendak menyapa beneran dia apa bukan.

Posisinya dia baru mau pulang dari jemaah Subuh di masjid dan saya hendak beli kue buat teman ngopi di pasar itu. Tadi setelah tahu letak rumahnya tidak jauh dari masjid, saya pastikan bahwa beneran saya berpapasan dengannya kala itu.

Ini tadi 'safari jumat' saya yang kedua di masjid Baiturrahim. Yang pertama pada 23 Januari 2025. Begitu masuk masjid ini bau wangi menyengat menusuk hidung. Aroma itu dari pewangi yang disemprotkan ke karpet, tapi terlampau keras.

Jadi, ada dua pahala kebaikan saya petik hari ini. Pertama, pahala besuk orang sakit (walaupun posisinya sudah sehat). Kedua, pahala ‘safari jumat’ yang sejak awal tahun saya istiqamahi. Semoga komitmen ‘safari jumat’ ini bersinambung.    


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Kado Puisi

Pagi tadi pas membuka facebook , grup "Koloni Seniman Ngopi Semeja Depok" mengunggah pengumuman kontributor puisi kado ulang tahun 75 untuk penyair senior, Mas Adri Darmadji Woko, yang akan berulang tahun pada 28 Juni 2026 mendatang. Hingga limit waktu ( deadline ) menghimpunkan puisi, terbilang ada 94 penulis puisi (pemuisi, penyair) yang mengirimkan puisi untuk selanjutnya dibungkus jadi kado terindah tuk hari spesialnya penyair sepuh  Mas Adri Darmadji Woko. Sayalah orangnya di urutan 94. Sosok penyair senior Adri Darmadji Woko  Kado puisi. Begitu narasinya. Daripada kado dalam bentuk material yang bisa musnah setelah momen ulang tahun berlalu, lebih afdal kado dalam bentuk buku. Isinya, ialah testimoni atau pendapat kawan-kawan yang berisi kenangan paling mengesankan. Kenangan mengesankan itu yang oleh kawan-kawan diungkapkan dalam bentuk tulisan bertajuk "pesan dan kesan" yang tak mesti berisi hal yang bernuansa suka cita, tetapi ada juga yang bernuansa duka l...

Datang dan Pergi (2)

Saya mempergunakan lagi judul di atas dengan menambahkan angka 2 dalam tanda kurung, setelah mempergunakannya di postingan blog ini pada 10 Mei. Tentu, saya mesti merevisi judul di tanggal 10 Mei itu dengan menambahkan angka 1 dalam tanda kurung sebagai garis sambung keterkaitan judul itu. Teman lama saya yang masih bertungkus lumus di dunia media siber atau media daring, meminta puisi saya untuk dimuat di media yang ia kelola, “Lumayan buat nambah-nambah halaman,” alasannya. Media dengan kru lapangan terbatas, memang susah-susah gampang menangguk bahan berita buat isi halaman. Itulah kenapa banyak media daring di daerah berafiliasi dengan media besar di ibu kota Jakarta (Jakarta masih ibu kota, ya) setelah sengketa hukum IKN di MK ditolak oleh Majelis Hakim MK lewat putusan Nomor.71/PUU-XXIV/2026 yang menegaskan bahwa Daerah Khusus Jakarta (DKJ) tetap berstatus sebagai ibu kota negara. Dengan berafiliasi dengan media besar di Jakarta atau kota besar lainnya (Bandung, Semarang ata...