Karena besok lebaran haji, hari ini istri mau buat opor. Ayam kampung potong sudah siap sejak dua hari lalu, dikarantina di freezer. Saya bagian ke pasar belanja bumbu dapur dan santan. Tak terkira banyaknya yang butuh santan, antrean panjang mengular meliuk-liuk.
Tadinya saya ke pasar tempel SPBU Langkapura. Setelah dapat bumbu giliran santan, tapi melihat antrean mak-mak saya beralih ke pasar tempel dekat masjid Baiturrahim. Sama juga kudu antre. Ya, sudahlah daripada beralih tempat lagi belum tentu dapat. Saya nyelip di barisan mak-mak.
![]() |
| Barisan mak-mak pemburu santan yang mengantre di pasar tempel SPBU Langkapura |
Saya lanang sendiri. Yo, wis rapopo. Dahulu, lagi zaman edan langka minyak goreng, saya juga suka-suka saja nyelip di barisan mak-mak demi dapat minyak goreng 2 liter harga murah. Macam zaman perang saja, untuk mendapatkan minyak goreng orang mesti bersabar mengantre.
Dari urutan sekian belas, nggak menghitung pastinya berapa, akhirnya sampai juga giliran saya. Saya nggak seperti mak-mak yang lainnya, beli santan peras (perasan kelapa). Saya minta kelapa parut saja, diperas sendiri di rumah, bisa dibagi menjadi dua bagian kental dan encer.
![]() |
| Barisan mak-mak tempat saya nyelip di pasar tempel dekat masjid Baiturrahim Sumberejo. |
Saya kira cuma satu-satunya bapaq-bapaq yang nyelip di antara mak-mak, nggak tahunya di belakang ada dua orang bapaq-bapaq juga rela masuk barisan pemburu santan. Bapak yang baik dan benar. Mauan disuruh istri ke pasar. Bukankah demi opor ayam di hari lebaran?


Komentar
Posting Komentar