Langsung ke konten utama

Di Bawah Atap Rindu

Opor ayam kampung yang dibikin oleh istri kemarin tidak kami gandengkan dengan ketupat sebagaimana lazimnya seperti Idulfitri lalu. Nasi yang jadi jodohnya di Iduladha ini. Anak-anak tak pulang pada hari raya haji ini.

Telah aku santap tadi sepulang salat id. Setelah ‘berpuasa’ alias tidak makan dan minum terlebih dahulu sebelum berangkat ke masjid untuk salat id. Beda dengan hari raya besar yang mesti atau disunahkan untuk makan minum terlebih dahulu.

Ilustrasi | sejarah idul kurban | Hajinews.co |

Diiringi lagu “Adaptasi” dari solois Tulus melalui MP3 yang ada liriknya “Dari Rabu hingga Rabu lagi” seperti mengena betul karena Iduladha ini jatuh pada hari Rabu dan yang berdiam dalam rumah hanya kami berdua istri tanpa anak-anak.

Dilanjutkan Tulus, “Kita di bawah atap rindu-Nya yang sama, menunggu tenangnya langit pagi.” Sejalan pula dengan isi khutbah khatib salat id tadi, hendaklah senyampang masih hidup dan sehat, suami dan istri saling kasih mengasihi.

“Ada suami-istri yang kondangan masih bersama, ada yang ke masjid salat id tahun lalu bersama, tahun ini tidak bersama lagi karena si istri telah berpulang. Ada yang ke mal atau pasar masih bersama. Kini tidak lagi, si suami telah tiada.”

Yang disampaikan ustaz Azwar Hasan dalam khutbahnya di atas, membuat Pak H. Adnan di sebelah kiri saya mengisakkan tangis yang ditahannya. Oh, Pak aji, nikmat betul masih bisa mengeluarkan air mata menangis. Hal langka.

Sepertinya Pak aji terkenang dengan orang tua yang telah tiada tatkala menyimak khutbah terbit kerinduannya. Atap rindu yang menanunginya seperti bocor menjatuhkan tetes air kasih sayang orang tuanya di masa kecilnya yang terngiang.

Yap, di bawah atap rindu, siapa pun merasa asing di saat-saat hari raya begini. Siti Hajar rindu pada putra semata wayangnya yang dibawa Ibrahim alaihis salam ke Jabal Mina untuk disembelihnya mengikuti perintah Tuhannya Allah azza wajalla.

Keredhoan Ismail alaihis salam untuk disembelih ayahnya atas kecintaan dan ketakwaan kepada Tuhannya Allah SWT. Dan, atas doa Malaikat yang memohon agar Allah SWT menyayangi Ibrahim dan menyelamatkan putranya Ismail alaihis salam.

Tubuh Ismail alaihis salam yang ikhlas redho telah ditidurkan Ibrahim alaihis salam di atas pahanya. Dengan mengumandangkan takbir “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Laila haillallahu Allahu akbar, Allahu akbar walillah ilham” dan memejam.

Pedang terhunus siap menggorok leher Ismail alaihis salam yang ikhlas redho dan berkat doa Malaikat, Ismail diganti Allah SWT dengan seekor Kibas yang besar. Itulah asbabun nuzul peristiwa pengurbanan Nabi Ibrahim dan putranya Ismail.

Dan, ibadah kurban itu jadi teladan kita. Bukan perkara hewan yang kita kurbankan, melainkan filosofinya untuk menyembelih "Ismail" dalam bentuk lain. Yaitu sifat-sifat syataniah dalam perilaku kita. Tamak, hasad, dengki, korup, dll.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Jam Rusak Jangan Dibuang

Nah, benar belaka apa yang saya ujarkan dalam postingan blog kemarin, bahwa ada orang membiarkan jam dinding mati, terpacak bisu di tembok ruang tamu (dijadikan hiasan dinding). Padahal, tinggal ganti mesin bisa hidup kembali. Bapak pemilik “Omega Arloji” di Bambu Kuning Trade Center, mengemukakan hal itu. Sambil si Bapak dan putrinya mengganti mesin jam kami, si Bapak berkata, “Ada orang main buang jam yang udah mati, padahal masih bisa diganti mesinnya.” Berbagai merek jam tangan jualan "Omega Arloji" kios No.254 Bambu Kuning Trade Center. “Kemarin siang ada orang bawa tiga jam ke sini. Sebelumnya ada empat jam dibuangnya,” lanjut si Bapak menceritakan ketertegunan klien yang baru ngeh ternyata jam dinding mati masih bisa dipakai dengan cara mengganti mesinnya. Sesepele itu. Si Bapak juga terkagum-kagum pada merek jam dinding kami, NAGOYA. Katanya, ini sudah nggak diproduksi, tadinya banyak kami jual, sekarang tinggal satu itu seraya ia tunjukkan jam di tembok kio...

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...