Langsung ke konten utama

Sisa Kenangan

Ada sisa hujan di matanya. Tetiba terpikir nulis puisi di dalam perjalanan pulang dari Depok kemarin karena sendu. Pikiran ini berkelebat seperti bayangan tubuh para penglaju commuter line yang tertabrak KA Argo Bromo Anggrek super cepat itu di stasiun Bekasi Timur, menggelepar meregang nyawa.

Tadi sebelum subuh, selagi salat tahajud, tiba-tiba hujan deras turun. Pagi ini ada sisa hujan di jalan depan rumah, menguatkan pikiran tentang jejak langkah para penglaju subuh berjamaah di masjid. Tetapi, karena aspal jalanan mulus dan derasnya sapuan air, jejak langkah pejuang subuh itu hilang.

Ini Sego Tempong lauk ikan Nila goreng 

Sisa hujan, bayangan tubuh, dan jejak langkah para pejuang subuh adalah frasa yang menarasikan rasa kehilangan. Orang tua yang kehilangan anak, anak yang kehilangan ibu, suami yang kehilangan belahan jiwa. Itu semua berkelebat dalam pikiran saya ketika melewati stasiun Cisauk, Tangerang, Banten.

Selepas melewati stasiun Cisauk, kendaraan yang kami tumpangi melaju di jalan arteri Serpong terus keluar Bitung dan sesampainya di Cikupa, hujan menyambut. Kendaraan tak meninggalkan jejak sekelebat pun, semua habis tersaput air hujan. Tak ada kenangan, semua pergi menjauh. Tertinggal.

***

Mengais sisa perjalanan, ada satu kenangan yang belum sempat tercatat di blog ini. Selain ingat bingar musik yang diputar sopir travel sehingga membuat tidur tak bisa lelap. Ada lagi lainnya, yakni senyum semringah Pak Anies Rasyid Baswedan saat diminta naik untuk diabadikan di sebelah kedua mempelai.

Kenangan lainnya yang hampir lupa tercatat di blog ini, adalah momen kulineran bersama anak mantu di 'Sego Tempong Warga'. Ini yang lebih dekat aksesnya dari rumah anak mantu. Sayang agak kurang worth it. Sambalnya lumayan pedas, tapi lauknya kurang garam, jadi agak hambar. Serasa kurang nendang.

Yang muantap buanget memang sih 'Sego Tempong Nitinegoro' di Ciganjur. Tetapi, lumayan jauh untuk menjangkaunya dari rumah anak di Depok. Dahulu, waktu nyoba pertama, dari hotel Amaris Kemang, jalan terasa jauh dan lama. Terbayar, akan tetapi, karena saking mantapnya. Yang ini nendang banget.

Ini Sego Tempong lauk Udang goreng 

Tentang kurang garam sehingga rasa menunya agak hambar dan kurang nendang, telah kami sampaikan kepada salah seorang pramusaji yang mendatangi meja kami dan minta makanan yang kami nikmati direviu. Jadi, penafian untuk tulisan blog ini bukan untuk menjelek-jelekkan gerai sego tempong ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...