Langsung ke konten utama

Holiday Inn New Year

Mengisi liburan nataru secara berantai diisi dengan doa aqiqah cucunda dari kakanda M. Thoha BS Jaya di kediamannya Jalan Ratu Dibalau Gang Damai V ~ pada malam tahun baru, dilanjutkan diajak stay cation di Holiday Inn Bukit Randu selama dua malam, check in Kamis dan check out Sabtu.

Saya dan istri katut keluarga besar Batin Daud ini menikmati masa bahagia mereka tersebab mendapat anugerah cucu ke delapan. Dua putri kakak ini yang jadi ASN di Jakarta pulang liburan nataru mengisi izin cuti bersama keluarganya. Jadinya bisa kumpul keluarga besar mereka. Memanfaatkan waktu luang.

Masjid Al-Bakri di kejauhan dan Grand Mercure 

Kita orang dewasa hanya pelantara bagi keseruan anak-anak dari keponakan yang happening bertemu kolam renang. Menunggui sambil main gadget dan terutama saya, ialah menulis untuk blog. Ya, tulisan random seperti sudah saya ceritakan di postingan beberapa waktu lampau. Begitulah adanya.

Dari ketinggian Bukit Randu, pandangan mata saya sapukan ke penjuru sejauh-jauhnya. Nun di selatan putih berseri kubah masjid Al-Bakri dengan menara yang menuding langit. Agak sedikit lebih dekat dari Bukit Randu, tampak Grand Mercure merasa paling jangkung di antara yang lainnya. Memang begitu.

Lelampu kota bagai kunang-kunang 

Lebih jauh ke selatan, masjid Al-Furqon cuma bisa dikenali dari menara barunya yang gagah menjulang. Sementara tubuh masjid tidak terlihat dengan jelas karena terlampau jauh. Di malam hari, lelampu kota bagai kunang-kunang yang memperlihatkan diri secara beramai-ramai menyambut tahun baru.

Holiday in "Holiday Inn Bukit Randu" kali ini jadi penambah catatan stay cation berulang yang kami (saya dan istri) ikuti bersama keluarga besar kakak ini. Pernah di Hotel Akar (eks Sheraton Hotel) Jalan Wolter Monginsidi, kini lebih dikenal sebagai AKAR Hotel and Restoran. Mungkin berganti manajemen.

Holiday Inn Bukit Randu 

Kamar yang lega, lanskap keluar pemandangan kota Tapis Berseri yang eksotis, di pagi yang cerah, siang yang meriah, senja berhia sunset, dan malam berhias kelip lelampu kota bagaikan ribuan kunang-kunang bermigrasi mencari dunia baru yang menjanjikan ketenangan di tengah perubahan cuaca ekstrem.

Interior design yang elegan dan kece

🖤



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...