Langsung ke konten utama

Kata yang tak Tidur

Mengapa ada orang susah tidur. Dibilangnya insomnia. Di facebook berseliweran iklan macam-macam. Orang seperti Ustaz Adi Hidayat (UAH) “dikerjain”, bicara panjang lebar tentang suatu produk, seolah-olah ia yang menciptakan resep dari hasil penemuan dalam pengujian berulang. Saya berpikir, itu hasil rekayasa AI (Artificial Intelegence).

Pernah di masa yang telah lama berlalu, saya menemukan iklan obat buat stamina penambah kejantanan laki-laki. Yang “dikerjain” dokter Terawan Agus Putranto, dinarasikan dalam iklan itu seolah-olah ia mampu menundukkan empat wanita dalam “pertempuran” satu malam. Saya berpikir, orang berani betul mengorbankan orang hebat.

Apa iya, dokter Terawan dan UAH betul-betul seperti di iklan itu. Ah, itu hasil rekayasa AI. Orang menciptakan kata-kata betuah, kata-kata yang hidup –bukan kata-kata yang tidur– sehingga menarik perhatian pengguna facebook untuk menonton videonya hingga habis. Siapa yang terkesima, di situlah kata menjadi hidup dan tak tidur.


Mungkinkah Kata tak Tidur?

Puisi Zabidi Yakub

apakah dalam kepala orang insomnia
kata-kata juga turut begadang
tak tidur sepanjang malam
sepicing pun
terus apa yang kata-kata lakukan
apa yang orang insomnia rasakan

mungkinkah kata-kata tak tidur
mengembara dalam kepala
pada tubuh yang gelisah
dalam gelap kamar pengap
minta bertemu kata lainnya
seperti diksi bertemu metafora

tapi, dalam puisi kata harus terjaga
mesti bernyawa dan bertenaga
agar bisa memberi warna
menghasilkan makna
ini pertaruhan bagi mata yang lelap
menjaga frasa dalam gelap

dalam kepala orang insomnia
kata-kata yang tak tidur
terbaring serupa alis rebah
tidak pasti apakah tahan cuaca
atau tidak dalam suhu kamar
menunggu pagi tetap terjaga

pada kata-kata yang tak tidur
apakah metafora bagi gelisah
pada mata yang lelah
karena tak sepicing pun
apakah ada puisi tersimpan
siap mekar di pagi hari

 

Kemiling Permai, 15 Januari 2026 | 22:28 |


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...