Langsung ke konten utama

Soto SSB

Ini bukan niatnya sebagai balas dendam karena selama demam flu 'puasa' sambal pedas terkait radang tenggorokan, melainkan semacam buang sial saja. Pagi ini sarapan soto daging di gerai langganan Spesial Soto Boyolali "SSB" Jl. Sultan Agung, Kedaton.

Kuahnya bening seger, antara pedes asin gurih nyatu seimbang. Tak perlu saya tambahkan sambel, cukup perasan jeruk nipis karena kuahnya sudah terasa agak pedas. Satu porsi nasi putih tandas saya lahap karena memang belum sarapan di rumah, sengaja.

Soto daging SSB + tahu dan mendoan panas 

Soto ini lumayan rame pengunjungnya karena itu daya hidup usaha jadi berkesinambungan. Dahulu pernah Soto Kadipiro dari Jogja membuka cabang di Bandar Lampung, tapi gulung tikar. Mungkin kurang cucok dengan lidah Lampung yang doyan seruit.

Kawan-kawan di Jogja juga ada yang kecele pada Soto Kadipiro ini. Yang asli dan yang KW beda tipis rasanya. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu atau paham mana yang asli dan yang palsu. Memang begitulah faktanya soto di Jogja hampir enak semua.

Zaman saya SMA tatkala istirahat, saya ngacir keluar pagar, masuk kantor Pengadilan Negeri di seberang sekolah, di kantinnya ada penjual soto yang lumayan enak. Yah, sebagai selingan makan harian di warung pojok gedung sekolah, nasi rames murah meriah.

Di depan gedung bioskop Indra Jl. Malioboro juga ada soto tenda yang sering amat saya mampiri bila keluyuran ke Malioboro. Ya, juga lumayan enak. Di Pasar Beringharjo juga ada soto legendaris yang hingga hari ini masih eksis, dijadikan klangenan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Note ato Catatan (1)

Banyak momentum kelewat gak ingat. Kelewat dan berlalu begitu saja, tahu dan sadar ketika ada yang memberi tahukan dan menyadarkan. Di sini sebenarnya letak pentingnya menulis catatan dalam note atau memo agar selalu ingat atau tidak terlupa. Di ponsel tersedia yang namanya 'note' atau 'catatan', bergantung apa bahasa yang disetting dan digunakan si punya ponsel. Ponsel saya disetting bahasa Inggris, maka terbaca 'note' untuk aplikasi bawaan gawai itu. Ilustrasi | image source: Career Advice Jobs.ac.uk | Membuat catatan di kalender pun bisa, bahkan lebih representatif coz begitu tanggal itu akan tiba, sudah ada notifikasinya. Seperti tanggal kelahiran karena saya tandai ulang tahun, selalu di-notif oleh google. Berapa hari sebelum tanggal lahir akan tiba, google mengingatkan saya 'akan ulang tahun' dan saat tiba tanggal itu, google memberi ucapan 'selamat ulang tahun zabidi' dengan hiasan balon beterbangan. Satu hari sebelum tanggal lahir saya, ...

Puisi Tentang Puisi

Inilah enam puisi tentang puisi yang dimuat di NusaBali asuhan Warih Wisatsana. Puisi tentang puisi. Entah mengapa saya tiba-tiba terpikirkan membuatnya. Lalu, saya kirimkan ke Koran NusaBali. Agak lama menunggu kabar dimuat atau tidak. Bersamaan pula mengirim puisi ke Koran Bali Politika. Bali Politika asuhan Wayan Jengki Sunarta. Dua kali saya bertemu dengan Bli Wayan. Pertama sewaktu menghadiri Ubud Writers and Readers Festival, 18–22 Oktober 2023. Kami sarapan dan ngopi di Sagitarius Inn, hotel tempat kami menginap. Pertemuan kedua sewaktu menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara. Inilah 6 sajak-sajak saya yang dimuat di NusaBali (Minggu, 9/3/2025) Menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT), 24–26 Oktober 2024, saya dan istri baru empat hari pulang dari ibadah umrah, tapi tak merasakan capek sama sekali. Lalu, setelah lama menunggu, akhirnya yang di BaliPolitika dimuat. “Maaf menunggu agak lama karena sesuai antrean,” kata Bli Wayan Jengki Sunarta. "Wah, saya senang s...