Langsung ke konten utama

Varian Duku

Semakin tahun semakin jauh bergeser waktu menjalankan ibadah puasa yang tidak lagi berbarengan dengan musim buah duku. Dahulu pas berbarengan, selalu ada buah duku sebagai menu berbuka puasa, di samping tentunya buah kurma, gorengan + cuka, minuman es campur (sop buah).

Kini, buah duku sudah banyak diperdagangkan di pasar dan pinggir jalan di kota Bandar Lampung. Yang menarik, saat saya beli di pasar Bambu Kuning, penjual menawarkan pilihan, hendak duku Komering atau Baturaja. Apa bedanya, tanya saya. Beda di rasa, jawabnya dengan tegas. Dalam hati saya, tentu saja.

Duku ini, yang kami beli tadi, juga disebut penjualnya "duku Palembang" lantak.

Untuk meyakinkan lidah, saya ambil sebuah yang dikatakannya Komering, memang manis. Saya ambil pula sebuah yang Baturaja, ada sensasi masamnya. Lidah saya tahu persis perbedaannya. Tak bisa lagi berkelit mencari alasan buat menawar harga setelah tahu rasanya. Saya minta yang Komering satu kilo.

Sepulang dari Jember menghadiri Temu Karya Serumpun bulan Oktober 2025 lalu, kami mampir Surabaya, di pasar Pucang ada jualan duku, merek "Duku Palembang", dalam hati saya ketawa. "Mana ada duku Palembang," batin saya memberontak. Di Palembang itu adanya empek-empek dan kemplang.

Tentang duku Baturaja itu saja saya agak tak begitu paham, kenapa bisa ada penamaan atau penyebutan begitu. Setahu saya yang jadi sentra perkebunan duku itu daerah Raswan, kabupaten Ogan Komering Ulu yang memang ibu kotanya Baturaja. Itulah yang dimaksud dengan duku Komering trade merk.

Jadi, di Sumatera, varian duku adalah duku Komering dan duku Baturaja, sementara penjual di Jawa punya penyebutan atau penamaan duku Palembang yang mungkin memang didatangkan dari Sumatra. Apakah tidak ada duku di Jawa? Jawabnya ada. Di mana? Di daerah Sleman, Yogyakarta (Jalan Magelang).

Bagaimana kisahnya? Dahulu, nenek moyang mereka yang pergi bertransmigrasi ke Sumatera, saat pulang membawa bibit duku dan menanamnya di kampung mereka di Sleman itu. Masa berbuah duku ada di usia 25 tahun. Tidak mustahil, duku itu dinikmati oleh cucunya, sementara yang menanam telah tiada.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...