Langsung ke konten utama

Resolusi? No Way!

Beruntunglah orang yang tidak pernah bikin resolusi-resolusian di awal tahun. Saya yang tiap pergantian tahun atau berganti tahun, memasukinya begitu saja tanpa menetapkan target yang akan dicapai, merasa nyaman menjalaninya. Tak merasa ada yang belum selesai di tahun yang berlalu. Tak ada utang yang wajib dibayar lunas, gitu.

Tahun 2026 ini apa yang akan saya kerjakan, tak ada perencanaan. Bikin buku, ya, selama ini juga sudah cukup banyak bahan umpama hendak dibukukan. Novella 60 sub bab tinggal kirim saja ke penerbit jika memang saya berniat untuk menerbitkannya. Jikalau tidak, ya, mangkrak begitu saja seperti draft bakal buku kumpulan puisi tentang covid, ngendon di CP sejak 2020.

Resolutions | foto: Unsplash/Tim Mossholder

Tentang capaian pun, tak pernah terpetakan sebelumnya. Beberapa even menulis puisi yang saya ikuti, Alhamdulillah yang lolos kurasi jadi buku. Belum saya hitung berapa buku yang di dalamnya ada nama saya sebagai peserta. Masih ada dua buku lagi yang saya tunggu tiba di rumah. “Sedang dalam perjalanan,” kata admin WAG. “Agaknya begitu,” balas saya.

Begitu pun di tahun 2026 ini, seumpama ada even-even, niscaya saya ikuti. Yang sepertinya bakal ada adalah even Jambore Sastra Asia Tenggara oleh Dewan Kesenian Blambangan (Banyuwangi) sebagai kelanjutan yang ditaja tahun 2024. Jika dua tahunan sekali, maka tahun 2026 ini bakal diadakan lagi. Komunitas Sastra Timur Jawa, pancen oye dalam menaja kegiatan.

Oh, iya, di antara even-even yang saya ikuti sepanjang tahun 2025, ada lho yang tak jelas akhirnya. Satu even di Jogja, ini tak jelas hasil kurasinya mereka umumkan di platform apa. Dilacak di facebook atau di Instagram individu yang bersangkutan, tak ada jejak dijitalnya. Satu even lainnya, “Puisi Kepala Babi” sebagai bentuk simpati terhadap teror kepada Majalah Tempo.

Entah mengapa kok tak bisa diwujudkan jadi buku antologi seperti halnya antologi puisi “Tanda Cinta Bagi Korban Bencana Sumatra” yang bukunya saya tunggu kedatangannya. Lho, yang dikirimkan ke Sumatra Barat saja sudah sampai. Masak yang cuma ke Tanjungkarang Barat (Lampung) belum sampai, piye tho, Jal. Itu efek libur ekspedisi di tahun baru, agaknya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...