Langsung ke konten utama

Kenduri Ketjil Aqiqah

"Tak ada yang namanya 'tahun baru'," kata kawan dalam larik puisi yang ia share di grup WhatsApp. Baginya, tahun dari dahulu begitu-begitu saja. Yang menandakan adanya pergantian tahun, baginya adalah rambutnya yang tadinya hitam, menjadi putih oleh uban yang kian banyak.

Masih melalui grup WhatsApp, saya lihat dan baca ucapan "selamat tahun baru" baik secara umum maupun khusus ditujukan kepada saya, baik berupa tulisan maupun gambar dan animasi video yang dikreasi sendiri atas bantuan AI atau mem-forward yang didapat dari kiriman kawan di grup sebelah.

Aneka suguhan keduri ketjil aqiqah dan doa syukur di malam tahun baru.

Tadi malam 🌃 ada acara aqiqah putu (cucu), putri keponakan istri di Wayhalim. Ditingkah hujan yang mengguyur memandikan Bumi agar menjadi cantik, sebab akan bersalin wajah dari 2025 ke 2026, waktu kami untuk pulang jadi tertahan. Kami isi dengan membereskan ruang, kembali ke settingan semula.

Bersamaan dengan beresnya ruang tamu, dentuman petasan kembang api 🔥 menghias langit. Cahaya api 🔥 berpendaran di udara hampa yang mungkin saja kedinginan usai hujan. Kami mulai perjalanan pulang ke rumah di BKP di bawah rintik hujan yang belum sepenuhnya tiris, tubuh pun diselimuti hawa dingin.

Di jalanan masih ramai kendara orang-orang pulang sehabis melewatkan pergantian tahun, bersama besti atau kekasih hati. Kehangatan yang tadi dibagi, akan kembali jadi dingin setelah berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Tapi, kenangan akan melekat di lubuk hati. Indahnya tahun baruan bersama besti.

Doa aqiqah dioplos dengan doa harapan di tahun baru berupa; disehatkan, dikuatkan, disejahterakan, dibahagiakan lahir dan batin, dicukupkan rezeki halalan thoyyiban. Dipanjangkan umur memasuki bulan Rajab, Sa'ban, dan Ramadan dengan segenap kekhusyukan menjalankan ibadah siyam nantinya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...