Langsung ke konten utama

Dadar Beredar (lagi)

Kemarin pagi, sengaja tidak masak, opsinya sarapan soto di Spesial Soto Boyolali "SSB" Jalan Sultan Agung, Kedaton. Mampir isi perut dalam perjalanan untuk besuk cucu (anak keponakan) yang sakit di rumah kakak di Gang Damai - Ratu Dibalau.

Sore jelang Asar pamit pulang, menuju Jl. Antasari untuk beli Dadar Beredar (take away), menyusuri Jl. Arif Rahman Hakim tembus Jl. Urip Sumoharjo (dulu pernah berkantor), belok ke Jl. Pulau Batam untuk menuju ke Jalan Sultan Agung - Mal Boemi Kedaton.

Gerai Dadar Beredar Bandar Lampung 

Begitulah jalan pulang dari daerah Wayhalim mesti berliku karena banyak U-turn ditutup oleh pemkot. Bukan salah U-turn, melainkan terlampau banyak kendara dan pemakai jalan yang tidak taat aturan. Akhirnya macet dan chaos. Tiap hari, pagi, petang.

Bakda Asar menikmati Dadar Beredar (lagi) setelah mengenal dan mencicipi sewaktu mampir Jakarta, menginap di Pejaten Valley Resident Hotel, awal November tahun lalu sepulang dari Jember hadiri even Temu Karya Serumpun, Sastra Timur Jawa.

Di bawah "November Rain" kami berlima (saya, istri, dua anak, dan mantu) makan bareng dadar beredar beberapa varian rasa pilihan masing-masing (saya pilih varian ayam suwir). Makan bareng inilah judul postingan blog ini pada tanggal 1 November 2025.

Kemarin saya pilih varian oseng pedas paru dan istri pilih varian oseng pedas ayam suwir. Yang namanya jeroan semacam hati, babat, otak, limpa, dan paru dia anti, kalo ampela ayam dia masih mau. Nah, ini bukti adanya anekdot absurd, "Dikasih hati minta ampela."

Dengan adanya gerai Dadar Beredar cabang Bandar Lampung, semakin lebar sayap usaha kuliner Dadar Beredar peninggalan almarhum stand up komedian Babe Cabita ini. Semoga bisa menyokong ekonomi keluarga dan karyawan yang menjalankan usahanya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Note ato Catatan (1)

Banyak momentum kelewat gak ingat. Kelewat dan berlalu begitu saja, tahu dan sadar ketika ada yang memberi tahukan dan menyadarkan. Di sini sebenarnya letak pentingnya menulis catatan dalam note atau memo agar selalu ingat atau tidak terlupa. Di ponsel tersedia yang namanya 'note' atau 'catatan', bergantung apa bahasa yang disetting dan digunakan si punya ponsel. Ponsel saya disetting bahasa Inggris, maka terbaca 'note' untuk aplikasi bawaan gawai itu. Ilustrasi | image source: Career Advice Jobs.ac.uk | Membuat catatan di kalender pun bisa, bahkan lebih representatif coz begitu tanggal itu akan tiba, sudah ada notifikasinya. Seperti tanggal kelahiran karena saya tandai ulang tahun, selalu di-notif oleh google. Berapa hari sebelum tanggal lahir akan tiba, google mengingatkan saya 'akan ulang tahun' dan saat tiba tanggal itu, google memberi ucapan 'selamat ulang tahun zabidi' dengan hiasan balon beterbangan. Satu hari sebelum tanggal lahir saya, ...

Puisi Tentang Puisi

Inilah enam puisi tentang puisi yang dimuat di NusaBali asuhan Warih Wisatsana. Puisi tentang puisi. Entah mengapa saya tiba-tiba terpikirkan membuatnya. Lalu, saya kirimkan ke Koran NusaBali. Agak lama menunggu kabar dimuat atau tidak. Bersamaan pula mengirim puisi ke Koran Bali Politika. Bali Politika asuhan Wayan Jengki Sunarta. Dua kali saya bertemu dengan Bli Wayan. Pertama sewaktu menghadiri Ubud Writers and Readers Festival, 18–22 Oktober 2023. Kami sarapan dan ngopi di Sagitarius Inn, hotel tempat kami menginap. Pertemuan kedua sewaktu menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara. Inilah 6 sajak-sajak saya yang dimuat di NusaBali (Minggu, 9/3/2025) Menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT), 24–26 Oktober 2024, saya dan istri baru empat hari pulang dari ibadah umrah, tapi tak merasakan capek sama sekali. Lalu, setelah lama menunggu, akhirnya yang di BaliPolitika dimuat. “Maaf menunggu agak lama karena sesuai antrean,” kata Bli Wayan Jengki Sunarta. "Wah, saya senang s...