Langsung ke konten utama

Lelayu Tengah Wengi

Tang-ting tang-ting bunyi notifikasi pesan WhatsApp. Saya buka, ternyata ada kabar duka. “Berpulang di RS Bhayangkara jemaah masjid kita, si Fulan, sekira pukul 21:10.” Begitu terbaca. Tidak begitu mengagetkan, karena beliau memang dalam masa 3–4 bulan ini bolak-balik masuk dan keluar rumah sakit, gantian antara RS Bhayangkara dan RS Bintang Amin (Malahayati), sebab komplikasi penyakit. Terakhir baru saja pasang ring di jantung.

Sekira pukul 23:15, seperti tak cukup disampaikan lewat pesan WhatsApp, terdengar wara-wara kabar lelayu itu melalui TOA masjid. Telinga saya fasih mengenal suara yang menyampaikan kabar duka adalah bapak RT kami yang merupakan wakil ketua takmir. Pagi membuka hari dengan gerimis tipis menghias langkah kaki pelayat mulai berdatangan ke rumah duka. Pemulasaraan jenazah menunggu anak almarhum, sedang dalam perjalanan dari Medan.

Jenazah Pak Elf selesai disalatkan 

Lelayu tengah wengi (kabar duka tengah malam) melalui TOA masjid seperti dipercaya lebih afdal dibanding pesan berantai via WhatsApp. Entah mengapa begitu. Undangan untuk acara Israk Mikraj pun masih disebar melalui fotokopian. Semestinya demi menghemat pengeluaran masjid, undangan apa pun, ya, cukup disampaikan lewat WhatsApp saja. Atau diumumkan lewat mimbar masjid saat salat. Ya, ujung-ujungnya terpulang ke TOA di menara juga.

Sekira pukul 10an tadi putri beliau tiba, menempuh penerbangan dari Medan ke Jakarta lalu disambung ke Lampung. Perkiraan waktu yang susah ditebak-tepatkan. Umpama pesawat jadwal penerbangannya tepat waktu take off maupun landing, jadinya akan cepat. Namun, jika terkena delayed, perjalanan jadi terhambat. Dengan begitu bakal jadi terhambat pula penyempurnaan jenazah. Ya, apa pun, itu kehendak sahibul musibah. Risiko bagi pelayat, keniscayaan.

Pelayat atau pentakziah yang sabar menunggu dan tak membubarkan diri dengan ngelipir satu per satu, pengurusan jenazah akan sesuai ekspektasi, yaitu disempurnakan oleh guyub tetangga dan disalatkan banyak orang (idealnya). Pernah ada kejadian, karena harus menunggu anaknya datang dari jauh, satu per satu pelayat pulang. Akhirnya di saat si anak tiba, suasana sudah sepi. Yang menyempurnakan dan menyalatkan si mayit tinggal keluarga itu sendiri.

      

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...