Langsung ke konten utama

Dukacita & Sukacita

Dahulu pernah dua perayaan terjadi bersamaan pada dua keluarga yang bertetanggaan RT. Yang satu pesta pernikahan di RT.14, sedang yang lainnya kematian orang tercinta di RT.11. Yang pesta terpaksa mengubah acara, dari semula mestinya ada musik orgenan, jadi disenyapkan demi menghormati yang sedang berduka.

Dua ihwal hidup manusia yang tidak bisa dibaca dengan pikiran, tapi dengan mata batin karena hanya bisa direnungkan hikmah di baliknya. Yang pesta bisa merancang waktu kapan acaranya, kematian tidak begitu. Kapan kematian itu akan terjadi, sebuah misteri tak terselami. Rahasia Ilahi Rabbi Izzati.

Sesi foto pengantin pasca-akad nikah 

Kemarin kami warga 4 RT guyub menyempurnakan jenazah salah satu jemaah masjid yang wafat Jumat malam sekira pukul 21:30 WIB di RS Bhayangkara. Hari ini kami warga 4 RT hadir memeriahkan acara pesta pernikahan putri dari jemaah masjid juga. Baik yang kemarin dan hari ini, tetanggaan RT.11 dan RT.14 juga.

Betapa sedih kan pengantin bila saat dipestakan ada kejadian tetangga yang mengalami dukacita seperti kasus yang saya kisahkan di awal tulisan ini. Tapi, beruntung yang kali ini ada selisih waktu satu hari, kemarin dan hari ini. Yang kemarin beres, yang hari ini berjalan lancar, meriah tanpa mesti merasa bersalah.

Dukacita & sukacita adalah kembang kehidupan yang niscaya menghiasi, mengisi seluk beluk perjalanan jiwa secara bergantian waktunya. Pada dua hari ini, kemarin dan hari ini, kembang kehidupan itu mekar menghiasi dua keluarga tetangga kami. Dua-duanya merupakan pengejawantahan takdir Tuhan Allah atas manusia.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Roda Ibu Ani

Kursi roda Ibu Ani dan kesetiaan Pak SBY menungguinya di rumah sakit. Bagaimana bisa melahirkan novel yang menceritakan perjuangan penyintas kanker seperti di buku “Seperti Roda Berputar” tanpa mengikuti proses dari mula hingga kini? Pertanyaan itu yang bersarang di pikiranku. Sewaktu mudik ke Pacitan 21 Mei hingga 3 Juni 2024, kami mengeksplor Museum dan Galeri SBY-ANI. Satu foto memperlihatkan kesetiaan Pak SBY menunggui Ibu Ani di National University Hospital Singapura. Foto Ibu Ani duduk di kursi roda sementara Pak SBY duduk di tepi hospital bed yang biasa Ibu Ani tiduri selama dirawat. Kaki Pak SBY menjuntai. Foto menggambarkan keduanya berhadap-hadapan sambil berbincang akrab. Saya sebenarnya penasaran, apakah Pak SBY menulis buku tentang masa-masa Ibu Ani dirawat hingga wafat. Seperti yang dilakukan Pak BJ Habibie, pasca-meninggalnya Ibu Ainun Habibie, Pak Habibie dilanda demam rindu. Guna memadamkan kerinduan kepada Ibu Ainun itu, Pak Habibie mulai menuangkan perasaan...

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Jangan Sakit Deh

“Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal.” (Rusdi Mathari). Demikian terbaca di buku “Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit.” Buku merangkum catatan Rusdi Mathari yang menderita kanker saat-saat menjalani perawatan dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain. Sebenarnya Rusdi Mathari pengin menulis novel tentang sakit yang ia derita dan bagaimana ia mengupayakan kesembuhan dengan menjalani rangkaian pengobatan secara runtut tahap demi tahap. Dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain silih berganti, ditangani dokter berbagai spesialis yang berkaitan dengan sakit kankernya. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Rusdi Mathari meninggal di Jumat pagi, 2 Maret 2018. Novel yang ceritanya ia bayangkan akan demikian kompleksitas sekaligus melankolis tidak terwujud. “Seperti Roda Berputar” hanyalah memuat sebagian catatan di rumah sakit yang sempat ia tulis dan terbit di Mojok.co. Pemerintah menghapus kelas 1,...