Langsung ke konten utama

Subuh kok Kipasan

Udara dingin menusuk tulang hingga ke sumsum. Itu yang saya rasakan ketika salat subuh tadi di masjid kami yang terbuka belum berdinding karena masih terus dalam taraf pembangunan. Selesai kubah terpasang, berlanjut mempercantik dinding area imam (pengimaman) dengan memasang granit dan ornamen dari bawah hingga ke atas langit-langit. Dikerjakan terus menjelang Ramadan agar saat hari raya nanti terlihat sudah cantik.

‘Teman jalan subuh’ saya, yang sudah berulang kali saya ceritakan di blog ini, belum aktif lagi salat berjamaah di masjid pascaoperasi hernia. Ia masih dalam pemulihan, tentu menghindari gerakan-gerakan ekstrem apa lagi mengangkat beban atau barang yang berat-berat. Padahal, ia mengelola warung kelontong di rumahnya yang berjualan gas dan galon air mineral. Jadi, siapa yang beli dua barang itu, kudu angkat sendiri.

‘Teman subuh’ ini punya suatu kebiasaan, yaitu menghidupkan kipas angin di waktu subuh. Lah, subuh udara dingin kok kipasan, piye tho, Jal! Panas karena ia membiasakan minum air putih hangat sebelum ke masjid. Itu alasannya. Wah, itu kebiasaan yang baik. Ada juga kebiasaan yang temporer sifatnya, yaitu ia puasa Senin–Kamis atau ayyaumul bidh (yaitu puasa tiga hari pada tanggal 13, 14, 15 bulan hijriyah). Bagus nian itu.

Subuh kok kipasan itu agak laen memang. Tetapi, para jemaah salat subuh yang lain walau kedinginan, toleransi saja terhadap kebiasaan ‘teman jalan subuh’ saya itu. Lantas, perasaan dingin subuh tadi, rupanya pengaruh aphelion, keadaan Matahari berada di posisi terjauh dari Bumi. Dampaknya adalah suhu terasa begitu dingin terutama di malam hari menjelang subuh. Untung ‘teman subuh’ tak ada, jadi aman kito.

Kalau ia ada dan ngidupin kipas angin, padahal udara terasa begitu dingin, piye, yo, Jal! Wah, bakal ada yang menguat-kuatkan diri digerujuk hembusan kipas angin tornado yang wus-wus kencenge poll. Ini untuk kali ke berapa, ya, saya menjadikan aphelion sebagai bahan konten blog ini. Entahlah, ah. Karena ini memang fenomena alam yang terjadi setiap tahun, ya, tentu bukan mustahil akan menjadi cerita tahunan juga.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...