Langsung ke konten utama

Up and Down

Setelah dua hari bertahan dalam demam dengan upaya mengatasinya sebatas minum obat flu warungan dan tak mempan, akhirnya saya ke klinik terdekat. Sebenarnya pengin klinik di Kemiling atas, cuaca tidak membuka jalan untuk keluar rumah. Hujan kepagian singgah di beranda rumah numpang ngaso, membuat waktu seakan tertahan. Baru malam bakda Magrib kemarin bisa ke klinik terdekat doang.

Saya khawatir penyakit lama kambuh, tipes yang berkolaborasi dengan DBD. Alhamdulillah menurut hasil diagnosis dokter, hanya radang biasa yang tidak biasa-biasa saja. Umumnya kan radang itu terjadi di tenggorokan yang jamak disebut ispa (infeksi saluran pernapasan akut). Nah, yang saya alami di samping radang tenggorokan juga radang di rongga hidung. Itu yang membuat ingus meler, tak henti-henti berulang saya buang. Jadi gawe mensengnyarakan.

Ilustrasi Up and Down | foto: YouTube The Autistic DJ |

Yang hampir luput dari dangkalnya pemikiran saya, adalah setiap mendekati bulan Ramadan saya sakit, membuat badan susut sekian persen. Begitu nanti menjalani ibadah puasa satu bulan penuh, badan tambah susut jauh. Istri saya berseloroh, “Baru saja mau gemuk, sakit, jadi cuwung pipimu.” Alamiahnya pipi saya memang tak pernah terlihat tembem atau chubby sebegimana pun banyaknya saya makan.

Seperti halnya cuaca, ada peralihan antara musim panas dan musim dingin, antara kemarau dan penghujan. Begitu pun kesehatan, niscaya ada up and down (naik dan turun), kadang naik atau tepatnya stabil di kondisi sehat walafiat dan adakalanya turun ke kondisi kurang enak badan dengan berbagai faktor pemicunya. Yang namanya hidup memang begitu, seperti air mengalir, seperti laut ada pasang dan sururtnya. Silih berganti.

Sewaktu sehat walafiat senantiasa, itu kondisi seseorang dalam keadaan up. Sebaliknya, sewaktu demam atau sakit, itu kondisi seseorang dalam keadaan sedang down. Saya jadi teringat kembali Pak RT kami berkata sambil menunjuk ke saya, “Orang ini sehat terus. Kalaupun ia hilang dari barisan jemaah di masjid, bisa dipastikan ia ke Jawa.” Dikatakannya menjawab Ketua Takmir Masjid yang berkata, “Orang hilang dari masjid, gak taunya masuk RS lalu mati.”

Itu obrolan saat melayat tetangga yang wafat perihal ada dan tak adanya seseorang di masjid. Wajah orang yang rutin salat lima waktu berjemaah ke masjid, ketika “menghilang” akan memunculkan tanda tanya bagi jemaah lainnya. Bisik-bisik menanyakan si Fulan ke mana, akan timbul. Jika orang yang “menghilang” itu membuat status otw di WhatsApp, akan banyak yang tahu. Namun, jika tidak, itu yang ditanyakan. Setelah nongol, mereka bilang, "abis ke Jawa, ya!"



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Lamban Kuning

Tidak kerap melewati jalan ini, hanya bila armada yang kami tumpangi akan masuk pintu tol mesti lewat depan lamban gedung kuning ini. Itu waktu hendak menuju ke arah Bakauheni. Begitupun sebaliknya, saat mengarah pulang, lewat jalan di sisi sebelahnya. Jalan Ryacudu, Sukarame. Tadi pagi-pagi sekali, saya bonceng istri menuju lamban gedung kuning ini yang jadi melting pot keberangkatan mereka jalan-jalan ke Dieng, Jogja, dan Solo. Berjalan santai melalui jalan Soekarno-Hatta (bypass) yang karena masih terlampau pagi sehingga belum terlampau ramai apalagi macet. Lamban Gedung Kuning kerajaan Sekala Berak Badanku yang habis 'digempur' tipes berangsur-angsur sehat. Makan tidak lagi dengan bubur, tapi sudah dengan nasi yang dimasak dengan sengaja dibikin lembut. Dibanyakkan air saat me-ngaron beras kemudian dikukus lagi di langseng selama seperempat jam baru dipindah dalam magic com . Setelah Tour Sumatera dan Tour Lombok, sekarang mereka Tour Dieng. Pada dua tour sebelumnya, ada ...

Note ato Catatan (1)

Banyak momentum kelewat gak ingat. Kelewat dan berlalu begitu saja, tahu dan sadar ketika ada yang memberi tahukan dan menyadarkan. Di sini sebenarnya letak pentingnya menulis catatan dalam note atau memo agar selalu ingat atau tidak terlupa. Di ponsel tersedia yang namanya 'note' atau 'catatan', bergantung apa bahasa yang disetting dan digunakan si punya ponsel. Ponsel saya disetting bahasa Inggris, maka terbaca 'note' untuk aplikasi bawaan gawai itu. Ilustrasi | image source: Career Advice Jobs.ac.uk | Membuat catatan di kalender pun bisa, bahkan lebih representatif coz begitu tanggal itu akan tiba, sudah ada notifikasinya. Seperti tanggal kelahiran karena saya tandai ulang tahun, selalu di-notif oleh google. Berapa hari sebelum tanggal lahir akan tiba, google mengingatkan saya 'akan ulang tahun' dan saat tiba tanggal itu, google memberi ucapan 'selamat ulang tahun zabidi' dengan hiasan balon beterbangan. Satu hari sebelum tanggal lahir saya, ...