Langsung ke konten utama

Mudahan Kelakon Istikamah

Di penanggalan merah pada peringatan Israk Mikraj Rasulullah SAW hari Jumat ini tadi, saya melanjutkan safari Jumat ke Masjid Al-Hikmah Jl. Pagaralam. Masjid yang struktur bangunanya bulat ini mengingatkan saya pada Masjidil Haram, tempat pemberangkatan Nabi Muhammad SAW saat hendak diperjalankan pada suatu malam menuju Masjidil Al-Aqsa di Palestina lalu naik ke Sidratul Muntaha yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Israk Mikraj.

Hanya saja ada yang beda, jika Masjidil Haram semua jemaah salat mengelilingi Kakbah sebagai kiblat, sementara Masjid Al-Hikmah semua jemaah salat menghadap ke arah satu dinding pengimaman yang meski bulat, tetapi itu menghadap ke arah kiblat. Menghadap ke arah pengimaman, saya lihat ada tirai dari terpal untuk menabiri percikan semen karena Masjid Al-Hikmah sedang direnovasi. Nah, masjid ini sedang renovasi sama seperti masjid kami, rupanya.

Penampakan halaman masjid Al-Hikmah 

Tetapi, kesepakatan hasil rapat membahas rencana perayaan Israk Mikraj Kamis malam, tadi Jumat pagi tirai terpal di pengimaman masjid kami dibuka. Pengerjaan pemasangan granit dan ornamen di area pengimaman telah selesai. Setelah dibuka tadi, paras mbagus di area pengimaman tampak ngganteng sekali. Cat ornamen dinding serasi nian dengan cat ornamen pada mimbar khatib. Mbesok pas perayaan Israk Mikraj, masjid kami sudah kelihatan mbaguse.

Penampakan tirai penapis di area pengimaman Masjid Al-Hikmah Gang PU 

Balik tentang Masjid Al-Hikmah, rupanya ini masjid tata cara salat jumatan berkhidmat pada cara kaum Muhammadiyah, yaitu hanya satu kali azan. Jadi tidak ada yang namanya salat qobliyah Jumat. Tentu, salat Subuh juga gapake qunut. Seperti yang saya tulis di postingan 9 Jnuari (Langkah Awal), maka Jumat tadi adalah lanjutan dari “Langkah Awal” safari Jumat yang saya niatkan. Ini niat terasa ambisius sekali, tapi, ya, mudah-mudahan kelakon istikamah.

Nanti, ketika safari Jumat dari masjid ke masjid ini beneran kelakon, niscaya akan semakin banyak saya dipertemukan dengan masjid Muhammadiyah dan NU. Pada masjid yang ada label tertentu, rasanya saya tak akan mencoba memasukinya. Konon, masjid seperti itu khusus untuk jemaah mereka. Jemaah di luar mereka yang nyasar salat di masjid mereka, setelahnya bekas salat orang asing tersebut akan mereka bersihkan, bahkan sampai dipel lantainya.

Ini tampak masjid kami Ikhlas Al-Azhar 

🕋

  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...