Yap, setelah dibuatnya kecelĂȘ hari Minggu selumbari, tadi pagi saya kembali ke kios agen koran legendaris peninggalan masa jayanya hingga disrupsi media melanda. Dan, inilah (foto di bawah) wajah koran yang kukenal di Jogja tahun 80an saat SMA hingga kuliah, tatkala harganya masih 300 rupiah per eksemplar, lebih murah dari rokok Surya 16, 450 rupiah.
Kompas Minggu yang terbit kali pertama pada hari Minggu, 17 September
1978, akhirnya dihentikan di Minggu, 28
Desember 2025. Manajemen Kompas memutuskan menggantinya dengan Kompas edisi
Akhir Pekan sejak Sabtu, 3 Januari 2026. Dengan tebal 20 halaman atau lebih
tebal dari biasanya saat dahulu terbit sebagai Kompas Minggu, 16 halaman.
![]() |
| Inilah wajah Kompas Akhir Pekan |
Sesuatu yang dahulu ada, puisi dan cerpen, kembali bisa dibaca
sembari menyeruput kopi bertingkah aroma kertas koran yang khas. Sebelumnya,
puisi dan cerpen pernah “diceraikan” ketika puisi terbit di Kompas Sabtu dan
cerpen di Kompas Minggu. Di Kompas edisi Akhir Pekan, kedua santapan rohani itu
kembali “dirujukkan” terbit dengan bergandengan.
Halaman Sastra, memuat puisi pernah dihilangkan dari Kompas Sabtu dialihkan
ke Kompas.id yang hanya bisa diakses dengan cara berlangganan koran digital
itu. Dengan diterbitkan kembali di Kompas Akhir Pekan, pembaca koran cetak
macam saya kembali bisa menikmati puisi dan cerpen sekaligus secara
bersama-sama. Demikian juga pecinta TTS.
“Udar Rasa”, kolom yang tak pernah saya lewatkan membacanya, pada
terbitan perdana Kompas Akhir Pekan kali ini menampilkan tulisan Jean Couteau. Pengisi
kolom ini yang sependek ingatan saya adalah Bre Redana, Alissa Wahid, dan Jean
Couteau itu. Entah juga kalau sekiranya saya luput menyimpan nama lain ke dalam
ingatan sehingga jadi terlupakan.
![]() |
| Bahasan perihal "resolusi" |
Di postingan blog ini kemarin, saya menulis perihal resolusi awal
tahun yang dibuat orang. Sementara saya tidak mengenal “resolusi-resolusian”,
begitu berganti tahun, masuk ke tubuh tahun yang baru, ya, masuk saja. Jalani,
lakoni, dan kerjakan saja apa yang hendak dikerjakan. Dengan begitu, saya
merasa tak pernah ada utang pekerjaan yang belum selesai.
Pada Kompas Akhir Pekan ini, rupanya ada bahasan
mengenai resolusi untuk diri sendiri, untuk dunia dan resolusi keuangan
realistis, dimuat di halaman 15 (desk Internasional). Ya, tahun baru selalu
menjadi momentum untuk menyalakan kembali harapan akan hidup yang lebih baik
setahun ke depan. Harapan mewujud dalam hamparan resolusi di awal tahun.


Komentar
Posting Komentar