Langsung ke konten utama

Safari Jumat

Memasuki tahun 2026, safari jumat, seperti kata ketua PHBI di masjid kami, Ikhlas Al-Azhar, Kang Kasep, mengistilahkan saya berpindah-pindah masjid untuk bersalat jumatan, maka Jumat kemarin saya jumatan di Masjid Nurul Hidayah Jl. H. Syarif, tidak jauh dari Alam Kuring Resto Jl. Ridwan Rais, tempat kami bersama dengan keluarga besar kakak stay cation di Holiday Inn, akan makan siang.

Masjid Nurul Hidayah tidak terlalu besar dan megah. Cukup untuk salat berjemaah lima waktu yang galib hanya sebanyak dua shaf dan salat jumatan. Saldo kas masjid ini, seperti yang diumumkan takmir, 25 juta sekian ratus ribu sekian puluh rupiah. Cukup makmur juga ini masjid dengan pemasukan infaq jumatan 700 ribuan dan pengeluaran cuma 1 jutaan.

Masjid Nurul Hidayah Jl. H. Syarif, Kedamaian 

Pengeluaran masjid, biasanya untuk bayar listrik dan air PDAM jika tidak ada sumur bor. Lalu, untuk bayar gaji marbot yang menjaga, merawat, membersihkan masjid dan kelancaran ibadah harian umat di sekitar lingkungan masjid. Mudah-mudahan badan sehat dan fisik saya kuat untuk melanggengkan kegiatan safari jumatan sepanjang tahun 2026 ini, insyaallah.

Ini sebuah rencana jangka panjang yang imajinatif. Memasuki tahun baru, ada orang memetakan atau menulis resolusi yang pengin dicapai. Safari jumat, hanyalah niat baik yang pengin saya jalankan tanpa beban, hanya mengikuti kemampuan badan & fisik yang tidak lagi tahan terhadap cuaca. Mengikuti musim yang bergiliran, antara panas dan hujan.

Alam Kuring Resto Jl. Ridwan Rais 

Jika hujan, tentu tak bisa saya paksakan diri untuk menjangkau masjid yang pengin saya datangi pada suatu hari Jumat. Lain halnya jika hujan itu turun setelah salat jumatan usai, pulang bisa memakai jas hujan yang memang tersedia di bagasi motor. Pakai motor memang simpel, masuk gang kecil pun bisa. Dan lebih cepat menyibak kemacetan jalan raya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Roda Ibu Ani

Kursi roda Ibu Ani dan kesetiaan Pak SBY menungguinya di rumah sakit. Bagaimana bisa melahirkan novel yang menceritakan perjuangan penyintas kanker seperti di buku “Seperti Roda Berputar” tanpa mengikuti proses dari mula hingga kini? Pertanyaan itu yang bersarang di pikiranku. Sewaktu mudik ke Pacitan 21 Mei hingga 3 Juni 2024, kami mengeksplor Museum dan Galeri SBY-ANI. Satu foto memperlihatkan kesetiaan Pak SBY menunggui Ibu Ani di National University Hospital Singapura. Foto Ibu Ani duduk di kursi roda sementara Pak SBY duduk di tepi hospital bed yang biasa Ibu Ani tiduri selama dirawat. Kaki Pak SBY menjuntai. Foto menggambarkan keduanya berhadap-hadapan sambil berbincang akrab. Saya sebenarnya penasaran, apakah Pak SBY menulis buku tentang masa-masa Ibu Ani dirawat hingga wafat. Seperti yang dilakukan Pak BJ Habibie, pasca-meninggalnya Ibu Ainun Habibie, Pak Habibie dilanda demam rindu. Guna memadamkan kerinduan kepada Ibu Ainun itu, Pak Habibie mulai menuangkan perasaan...

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Jangan Sakit Deh

“Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal.” (Rusdi Mathari). Demikian terbaca di buku “Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit.” Buku merangkum catatan Rusdi Mathari yang menderita kanker saat-saat menjalani perawatan dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain. Sebenarnya Rusdi Mathari pengin menulis novel tentang sakit yang ia derita dan bagaimana ia mengupayakan kesembuhan dengan menjalani rangkaian pengobatan secara runtut tahap demi tahap. Dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain silih berganti, ditangani dokter berbagai spesialis yang berkaitan dengan sakit kankernya. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Rusdi Mathari meninggal di Jumat pagi, 2 Maret 2018. Novel yang ceritanya ia bayangkan akan demikian kompleksitas sekaligus melankolis tidak terwujud. “Seperti Roda Berputar” hanyalah memuat sebagian catatan di rumah sakit yang sempat ia tulis dan terbit di Mojok.co. Pemerintah menghapus kelas 1,...