Hari
ini, sepanjang hari hampir tak ada sinar matahari. Saya katakan hampir
karena sinar matahari hanya sempat muncul sesaat saja kemudian tersaput mendung dan
hujan rintik pun turun-reda turun-reda secara bergantian. Udara pun menjadi
begitu dingin dibuatnya. Saya memang sedang influenza, ingus sedang encer-encernya (meler melulu),
bolak-balik saya keluarkan dari hidung dengan cara menghempaskannya ke tanah.
Dalam demam flu begini, ritme hidup jadi melambat. Kepala pening, badan
nggereges kedinginan. Mandi air hangat adalah trik meredam dinginnya air leding
yang kami konsumsi. Habis bagaimana lagi, hendak berjemur matahari tak
kelihatan ‘batang hidungnya’ apalagi senyumnya yang memikat hati. Lebih hangat
lagi berkemul sarung atau sekalian masuk ke dalam dekapan selimut tebal, terlebih dahulu telan obat flu.
![]() |
| Ilustrasi | foto: BITKA ORIGIN Coffee Roastery | |
Tadi
malam saya beli wedang jahe. Hanya airnya saja, tanpa campuran seperti wedang
ronde umumnya yang ada irisan roti tawar, mutiara, kacang hijau, dan biji
salak. Lumayan hangat badan setelah saya minum wedang jahe. Pagi tadi wedang
jahe saya panaskan dan menuangkannya ke kopi, jadilah kopi jahe saya seruput
untuk varian lain kopi yang biasanya diseduh dengan air panas. Asli beda dengan kopi jahe saset.
Menyeduh
kopi dengan wedang jahe ibaratnya melawan kebiasaan harian, yaitu menyeduh kopi
dengan air putih panas. Dalam kata lain adalah semacam bentuk menyesuaikan diri
dengan musim dingin yang sedang melanda. Hawa dingin disiasati dengan makanan
atau minuman penghangat. Sakit flu juga disiasati dengan hal itu. jadi, kelop
sudah kopi jahe untuk influenza dan hawa yang dingin.

Komentar
Posting Komentar