Langsung ke konten utama

Ritme Hidup Melambat

Hari ini, sepanjang hari hampir tak ada sinar matahari. Saya katakan hampir karena sinar matahari hanya sempat muncul sesaat saja kemudian tersaput mendung dan hujan rintik pun turun-reda turun-reda secara bergantian. Udara pun menjadi begitu dingin dibuatnya. Saya memang sedang influenza, ingus sedang encer-encernya (meler melulu), bolak-balik saya keluarkan dari hidung dengan cara menghempaskannya ke tanah.

Dalam demam flu begini, ritme hidup jadi melambat. Kepala pening, badan nggereges kedinginan. Mandi air hangat adalah trik meredam dinginnya air leding yang kami konsumsi. Habis bagaimana lagi, hendak berjemur matahari tak kelihatan ‘batang hidungnya’ apalagi senyumnya yang memikat hati. Lebih hangat lagi berkemul sarung atau sekalian masuk ke dalam dekapan selimut tebal, terlebih dahulu telan obat flu.

Ilustrasi | foto: BITKA ORIGIN Coffee Roastery |

Tadi malam saya beli wedang jahe. Hanya airnya saja, tanpa campuran seperti wedang ronde umumnya yang ada irisan roti tawar, mutiara, kacang hijau, dan biji salak. Lumayan hangat badan setelah saya minum wedang jahe. Pagi tadi wedang jahe saya panaskan dan menuangkannya ke kopi, jadilah kopi jahe saya seruput untuk varian lain kopi yang biasanya diseduh dengan air panas. Asli beda dengan kopi jahe saset.

Menyeduh kopi dengan wedang jahe ibaratnya melawan kebiasaan harian, yaitu menyeduh kopi dengan air putih panas. Dalam kata lain adalah semacam bentuk menyesuaikan diri dengan musim dingin yang sedang melanda. Hawa dingin disiasati dengan makanan atau minuman penghangat. Sakit flu juga disiasati dengan hal itu. jadi, kelop sudah kopi jahe untuk influenza dan hawa yang dingin.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...