Tadi malam doa tahlilan hari kedua di rumah sahibul musibah RT.011 dilaksanakan bakda Magrib karena bakda Isya akan diadakan perayaan Israk Mikraj di masjid. Waktu memang bisa diatur mulur mengkerut. Dari situlah dikenal istilah jam karet. Orang mengulur waktu dalam masalah apa pun, datang ke undangan telat, menghadiri rapat telat, sampai di kantor telat. Begitulah jam karet dijadikan suatu kebiasaan, bahkan membudaya.
Sudah keberangkatan
terlambat, eh di jalanan didera macet, ya, sudah sampai di tempat tujuan terlambat
jadinya. Begitulah yang terjadi pada pemeluk teguh “penglaju” di kota Jakarta
yang datang dari penjuru bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dengan commuter line atau KRL. Salah seirang dari
ribuan “penglaju” mengaku rata-rata menghabiskan waktu 4–5 jam di jalanan sejak dari
rumah hingga sampai kantor, tempatnya bekerja di tengah Kota Jakarta.
![]() |
| Takmir masjid foto bareng ustaz |
“Pengin resign, tapi eman-eman karena bekerja
ini di samping cari tambahan buat uang dapur, yang lebih besar nilai tambahnya
adalah untuk eksistensi diri.” Itu celoteh salah satu “penglaju” yang saya
tangkap di X (dahulu twitter). “Kadang sedih bila berhadapan dengan pertanyaan
anak-anak. Bunda kok pulang malam
terus. Besok Bunda ada di rumah nggak. Kapan Bunda libur, dll,”
kata seorang ibu muda “penglaju” yang bertempat tinggal di Karawang.
Karawang–Jakarta,
koridor tempuh para “penglaju” pemburu rupiah. Mengingatkan pada puisi Chairil
Anwar, “Karawang–Bekasi” yang mengisahkan para pejuang yang mati muda di medan
laga antara Karawang–Bekasi. Ada larik, “Jika ada rasa hampa dan jam dinding
yang berdetak.” Bisa jadi, para “penglaju” memendam perasaan hampa di dada pada
laju roda Bus TransJakarta atau KRL yang iramanya memburu cepat melebihi detak jam yang sekarat.
![]() |
| Takmir dan majlis ta'lim foto bareng ustaz |
Nah, kendati saya
membuka tulisan ini dengan perayaan Israk Mikraj di masjid tadi malam, tapi yang
saya uraikan lebih lanjut adalah masalah “penglaju” dari penjuru bodetabek yang
berangkat mengejar kereta saat matahari belum muncul dan pulang kembali ke
rumah saat matahari sudah lama tenggelam. Biar ustaz yang menjelaskan tentang
Israk Mikraj, memang itu kapasitas mereka. Tapi, ilustrasinya tetap, foto Israk Mikraj
tadi malam.
Ya, namanya juga
tulisan random. Menulis apa saja seketemunya pikiran. Yang penting “menulis lah
setiap hari” kata Bre Redana, pensiunan wartawan Kompas yang hingga saat ini masih meng isi kolom “Udar Rasa” Kompas Minggu yang bertransformasi, kini menjadi Kompas URBANA dan terbit hari
Sabtu, bukan Minggu lagi sejak 3 Januari 2026 lalu. Jadi, inilah hasilnya,
menulislah setiap hari. Tulisannya random, temanya tentang apa pun, seketemunya.


Komentar
Posting Komentar