Seperti saya tulis di postingan blog ini, Jumat (3/1), pada judul “Safari Jumat” bahwa berpindah-pindah masjid untuk bersalat jumatan, adalah sebuah rencana jangka panjang yang imajinatif. Menjalaninya tentu seturut cuaca. Seperti hari ini, saya jumatan di Masjid Jami’ Asy-Syuhada Sumberejo, Kemiling. Begitu salat jumatan selesai dan bubaran, hujan deras turun sejadi-jadinya.
Ini langkah awal untuk menekuni (melakukan suatu kegiatan secara tekun),
menekuri (melihat ke bawah sambil merenung atau memikirkan sesuatu dengan penuh
perhatian atau menghayati (mengalami dan merasakan sesuatu secara mendalam di
batin, bukan hanya sekadar tahu atau melakukannya secara fisik). Makanya,
langkah butuh penjiwaan dan pendalaman.
![]() |
| Masjid Jami' Asy-Syuhada, Sumberejo. |
Sepertinya bakal endah pada
akhirnya apabila selama setahun 2026 bisa kelakon
berpindah-pindah masjid bersafari jumatan. Lama tapi sebentar, sebentar tapi
lama. Panjang tapi sedikit, sedikit tapi butuh waktu panjang. Secara hitungan,
dalam satu tahun ada 52 minggu atau 52 jumat yang berarti akan 52 kali berpindah-pindah dari masjid ke masjid. Hanya 52, padahal selama 1 tahun. Begitulah waktu, amat nisbi.
Ya, waktu itu nisbi, relatif. Dibilang panjang, padahal hanya sebentar. Dibilang
sebentar, tapi sudah terlalu lama menunggu. Menunggu hujan reda, termasuk
nisbi, relatif. Ditunggu, tapi kok
tidak reda-reda. Karena ada jas hujan di bagasi motor, saya tak mau mengakrabi kenisbian
waktu. Saya kenakan jas hujan berikut celananya, tancap gas ke ATM lalu ke SPBU
kasih minum motor. Tiada antrean di ATM dan SPBU.
Seperti kegalibannya, sederas-derasnya hujan tadi di perjalanan yang saya senang menikmatinya sambil mewiridkan doa pujian “Allahumma soyyiban nafi’an”
berulang-ulang, eh begitu saya masuk garasi, si hujan yang deras langsung reda.
Sebentar. Tak lama kemudian turun lagi hujan susulan. Mengapa begitu? saat kita
di jalan hujan terus menderas, begitu kita sampai rumah langsung reda seketika. Kenapa hayo...
Kuasa Allah SWT menjadikannya begitu. Allah SWT menguji hambaNya,
seberapa tahan tuk menunggu, seberapa tabah di dalam menjalani, seberapa ikhlas menerima. Hujan,
di samping berkah juga musibah. Berkah bagi petani yang kesulitan mendapatkan air untuk
menyiram tetanamannya. Musibah, manakala hujan menciptakan air bah menghanyutkan kayu
gelondongan memorakporandakan rumah-rumah.

Komentar
Posting Komentar