Langsung ke konten utama

Maaf, Salah Tulis

Nama presiden AS, Joe Biden, sempat saya pakai tuk memplesetkan nama saya, Zabidi menjadi Joe Bidi. Ditulis Joe Biden, dibaca Jubaiden. Bukankah Joe Bidi dibaca Jubaidi? Tapi, karena huruf awal nama saya Z (Zabidi), sering sekali disalah-tuliskan orang menjadi Zubaidi di surat undangan.

Di kantor travel "RI" di Jambi, saya ngoceh-ngoceh karena di tiket nama saya ditulis Jadidi. Sambil minta maaf, mereka mengetikkan ulang nama saya pada komputer menjadi yang benar. Mungkin waktu saya memesan tiket melalui telepon, indera pendengaran mereka menangkap/terdengar Jadidi, bukan Zabidi.

Kemarin Ibu RT membagikan surat undangan dari tetangga yang akan hajatan menikahkan anaknya. Lagi-lagi, nama saya ditulis Zubaidi. Jika saja tak ada embel-embel RT.012, tentu akan saya distribusikan ke RT sebelah karena di sana memang ada warga yang namanya Zubaidi. Suka bikin rancu nama kami.

Tidak mengapa salah dituliskan. Karena di surat undangan sudah dicantumkan tulisan, "Mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan nama dan gelar." Karena itu, ya, saya maafkan. Dasarnya karena keterbatasan pengetahuan empunya hajat terhadap nama-nama tetangga. Semestinya diserahkan ke RT.

Ada yang takut salah tulis, terlebih dahulu minta ke Bapak RT daftar warganya. Ada yang main tembak menebak-nebak, ini yang sering salah tulis itu. Nah, urusan surat undangan, selain salah tulis nama, keteledoran lain ialah luput memberi surat undangan atau lupa mengundang karena lupa masuk dalam list.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...