Langsung ke konten utama

Ulang Tahun Bareng

Pada hari ini, tanggal 28 Juni, sepanjang pengetahuan saya, Kompas berulang tahun. Tentu saja banyak orang yang tanggal lahirnya juga 28 Juni. Dan, saya tidak kenal atau tahu mereka. Tetapi, ada penyair berulang tahun bareng Kompas, yaitu ADW.

Kompas HUT ke-61

Hari ini Kompas ulang tahun ke-61. Tahun lalu, pada ulang tahunnya ke-60, menerbitkan koran setebal 60 halaman. Di masa pandemi Covid-19, saya terkaget saat membeli Kompas di pedestrian Malioboro, yang biasanya 24 halaman susut jadi 16 halaman. "Sejak korona ini," kata penjualnya.

Koran Kompas edisi Hari Anak Nasional, 23 Juli 2020, itu tipis membuat saya masygul mendapati kenyataan betapa dampak wabah korona bisa membuat bisnis atau usaha apa saja bertekuk lutut. Jangankan penjual gorengan pinggir jalan, perusahaan manufaktur saja stop beroperasi.

Bekerja dari rumah dan belajar dari rumah jadi hal baru yang tiba-tiba membuat orang seperti masuk ke lorong waktu yang sebelumnya belum pernah terbayangkan. Alih-alih dilakoni dalam keseharian sebagai habit baru, terbayang akan mengalaminya saja tak sekali pun tebersit. Ujung-ujung terjadi.

Cukup lama Kompas terbit dengan 16 halaman itu. Dan, saya tetap mencintainya. Kendati harganya 14 ribuan, saya tetap membeli khusus edisi Sabtu dan Minggu. Sampai akhirnya keluar kebijakan manajemen, Kompas Minggu berhenti terbit pada 29 Desember 2025. Ganti dengan Kompas Urbana.

Kompas Urbana adalah gabungan Kompas edisi Sabtu dan Minggu, diterbitkan di hari Sabtu, mulai sejak 6 Januari 2026. Praktis tidak akan ada lagi kesibukan di ruang redaksi dan percetakan pada malam Minggu. begitupun distribusi koran tiada lagi di hari Minggu pagi, termasuk pengecernya.

***

Mas ADW HUT ke-75

Berbarengan dengan ultah Kompas, hari ini juga berulang tahun ke-75 penyair Adri Darmadji Woko. Untuk merayakan ulang tahun penyair senior ini, komunitas Koloni Seniman Ngopi Semeja, Depok, menaja penerbitan buku antologi puisi berjudul “Kado yang Terbungkus dalam Rumah Kata.”

Ada 96 penyair yang menyumbangkan kado puisi untuk ulang tahun penyair kelahiran 28 Juni 1951 yang suka menyingkat namanya menjadi ADW ini. Semula saat diumumkan yang lolos kurasi, muncul 94 nama penyair, kemudian ada perkembangan baru, jumlahnya bertambah menjadi 96 nama.

Buku antologi yang membungkus kado ulang tahun bagi penyair kelahiran Jogja yang setia dalam kepenyairannya ini, akan diluncurkan di Dinas Kearsipan dan Perputakaan Kota Depok pada 4 Juli 2026 dengan acara pembacaan puisi oleh penyair yang berkesempatan hadir di sana.

Sebagai salah satu penyumbang puisi dalam antologi puisi “Kado yang Terbungkus dalam Rumah Kata”, tidak sabar rasanya saya untuk membaca puisi kawan-kawan yang terhimpun bersama dalam buku yang penampakan video di-share di grup WhatsApp terlihat begitu keren.

Mas ADW tentu senang sekali mendapat kado puisi dari penyair seluruh Indonesia. Sependek pengetahuan saya, baru ini ada penyair berulang tahun mendapat kado puisi dari penyair lain. Yang sudah umum terjadi adalah, penyair menerbitkan buku untuk merayakan ulang tahunnya sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...