Langsung ke konten utama

Kabar Grup WhatsApp

Reuni kecil alumni Kerabat Kerja tamTAMA (KKT) serta Lampung Ekspres Plus (LE-Plus) 11 Juni silam di kebun belakang rumah Heri Ch, meninggalkan sejumput tanya, “Kenapa si Ini dan si Itu nggak datang. Ada yang tahu kabarnya tidak?” Tak ada bisa kasih jawaban sejelasnya.

Malam ini, pukul 20:27 WIB atau 08:27 PM, salah satu alumni membagikan kabar berhias foto yang bersangkutan di bangsal rumah sakit. Suparman Maryumi, mantan redaktur LE yang pernah pula ngebantu Harian Ekspres, dalam perawatan di RS.

“Assalamu’alaikum teman2 semuanya mohon doanya buat kesembuhan Suparman bin Maryumi ya,” tulis kawan melalui WhatsApp di grup alumni. “Pantas aja waktu saya kontak ngajak ketemuan, nggak dibalas olehnya,” komentar seorang alumni.

Baru saja saya selesai salat Isya, Zahdi Basran menelepon. Saya tanya kenapa nggak ikut reuni? Reuni di mana, tanyanya. Di tempat Hari Cihuy, jawab saya. Nggak ada yang ngasih tahu, katanya lagi. Kan ada di grup, apa gak dibaca, tanya saya.

Dari obrolan singkat di telepon, saya mencium aroma tidak sedap tentang kondisi kesehatannya. Ia gak kasih tahu dengan jelas. Cuma ngomong nggak bisa melangkah. Oleh karena itu gak bisa pergi jauh. Insting saya membacanya, itu serius.

Grup WA jadi jembatan komunikasi antarteman, antarsaudara, antarkeluarga, antartetangga, dan antarkomunitas. Alumni KKT–LE-Plus bisa juga disebut sebagai sebuah “keluarga” yang berisi (anggotanya) teman satu kantor dahulunya.

Apa dan bagaimana keadaan anggota “keluarga” itu, bisa saling memberitahukan melalui grup WA. Seperti sakit, dirawat di RS atau bahkan wafat, melalui grup WhatsApp itulah bisa mendapatkan kabarnya. Jangan sepelekan gunanya grup WA.

Seperti pernah saya ceritakan di blog bahwa, saya tidak pernah keluar grup WA kecuali dikeluarkan oleh admin. Ada 43 grup WA yang saya pernah atau masih jadi anggota. Pernah maksudnya saya sudah dikeluarkan. Masih artinya saya tetap aktif.

Di grup-grup WA sebanyak 43 itu, ada saja kabar yang menurut saya berguna. Ada banyak kiriman gambar dan video. Apalagi kanal media berita digital yang isinya opini atau puisi. Tentang yang saya anggap tidak berguna, ya, tinggal hapus saja.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...