Langsung ke konten utama

Lingkar Perut Stagnan

Sapa maning kien mah, esuk-esuk ngirim WA. Agak kaget saya mendengar nada dering khas pesan WA masuk pukul 04:33. Nada dering WA pada gawai android saya memang khas khusus yang pesan pribadi, beda dengan yang pesan di grup-grup WA.

Pesan WA dari nomor +62 823-4953-4451 ternyata hendak menawarkan sebuah roda keberuntungan kepada saya dengan menyuruh saya untuk ngeklik tautan yang dilampirkannya di bawah dengan emoji penunjuk ke bawah 👇. Yah, sangkanya saya demen.

Nomor siluman tawarkan "roda keberuntungan"

Tidak saya buka dan baca, apalagi mengeklik tautan yang dilampirkannya di bagian bawah pesan. Untuk menghibur rasa penasaran tentang apa isi lengkap pesan WA yang masuk, saya buka dengan ngegeser layar gawai, terbaca pesan darinya seperti di bawah.

Itulah isi pesan WhatsApp subuh tadi 

Telepon siluman setiap hari masuk beberapa bulan lalu, semuanya saya abaikan. Pernah iseng, sekali saya angkat hanya sekadar untuk tahu sebenarnya apa sih maunya. Ternyata menawarkan pinjaman online. Nah, ketahuan deh, itu telepon dari pinjol.

***

Woro-woro bakal ada pemeriksaan kesehatan gratis beredar di grup WA Warga RT.012 dan takmir masjid mengimbau warga hadir sebanyak-banyaknya. Kalau bisa 1.000 orang. Saya pikir apa akan ada semacam pemecahan rekor-rekoran atau kampanye curi start.

Tidak terasa pemilu 2029 niscaya datang mengetuk pintu. Si Jokowi sudah keliling menggalang kekuatan di basis massa dengan membawa bendera PSI. Anak emasnya yang kini wapres, bisa jadi akan ia naikkan jadi pres dengan segala kekuatan. Lempar" kawos.

Kelimun warga di lokasi pemeriksaan 

Saya semula agak malas pegi ke tempat pemeriksaan kesehatan gratis. Tapi, coba ajalah. Setelah diperiksa, lingkar perut stagnan, gula darah normal pada angka 95, tetapi tensi darah masuk kategori tinggi, tekanan sistolik pada angka 144 dan diastolik pada angka 85.

Lingkar perut 82, tensi 144/85, gula darah 95

Apa yang memicu tekanan darah jadi setinggi itu? Gorengan layak dijadikan kambing hitam. Sebelum ke tempat pemeriksaan kesehatan, ngopi dulu dan ngemil gorengan. Sebab, seperti itulah habit yang sentiasa kami lakukan. Alasannya, menyenangkan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...