Langsung ke konten utama

Mesin Cuci Bahari

Sejak dibeli dan dipakai selama lebih kurang 18 atau 19 tahun lalu. Nah, ini karena lupa tahun berapa saat membelinya dulu, jadi tidak cermat. Kali ini mesin cuci ini macet parah. Sebelumnya pernah macet ringan, saluran pembuangan air mampet dan pengering tak serta-merta berhenti secara otomatis.

Kali ini mesin penggilas cucian ngadat total tak mau muter. Setelah dipanggilkan mekanik dan ia bongkar, ternyata bisa ketahuan olehnya komponen apa yang rusak dan mesti didandani atau diganti. Kerusakan ada pada gearbox, tersumbat sisa-sisa kotoran dari debu-debu dan serat-serat kain pakaian yang dicuci.

Setelah gearbox dilepaskan 

Saking nemen sampai susah melepaskan gearbox itu dari mesin. Setelah berjuang susah payah, terlepas. oleh mekanik gearbox itu dibawa ke toko sparepart, tapi barang yang ori tidak tersedia, ditawarkan yang lokalan. Oleh mekanik diakali membersihkan sisa-sisa kotoran yang nyelip ke dalam gearbox. Berhasil.

Panjang juga akal mekanik itu. Akal ori milik manusia anugerah Yang Maha Kuasa, bukan akal-akalan atau akal imitasi alias artificial intellegence. Setelah lepas ia bersihkan dan diolesi minyak makan pengganti oli, gearbox yang tadi ngadat tidak mau muter, jadi bisa muter lagi, mesin cuci bahari kembali sehat. Mantap.

Itulah pengisi kegiatan hari libur, hari Minggu. Libur dari apa? Bukankah elo sudah sejak lama tidak punya pekerjaan lain selain berkutat depan laptop menulis cerita random diposting di blog? Iya, betul seperti itu. Tapi kan tadi ikut bekerja membantu mekanik melepaskan gearbox-nya. Oh... begitu, ya. Baiklah.

Walakin, mesin cuci bahari yang dibeli saat anak-anak masih SD, kembali sehat dan bisa bekerja lagi menggilas dan mengeringkan cucian. Kenapa tidak ganti saja dengan mesin cuci satu tabung? Kurang sreg, sepertinya kok cucian serasa kurang bersih. Mesin dua tabung, kan biar bergerak juga badan ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...